- Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengusulkan berbagai subsidi untuk meredam inflasi akhir tahun di Jakarta pada Senin.
- Usulan tersebut mencakup subsidi listrik 1200 watt, penambahan pasokan BBM, dan subsidi angkutan udara menjelang Natal.
- Inflasi tahunan September 2026 tercatat 3,28 persen dengan kenaikan bulanan sebesar 0,30 persen akibat harga cabai.
Suara.com - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengusulkan adanya subsidi listrik, penambahan pasokan bahan bakar minyak (BBM), hingga subsidi angkutan udara jelang Natal dan Tahun baru (Nataru). Usulan ini untuk meredam inflasi selama momen akhir tahun tersebut.
Tito menjelaskan, pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan permintaan barang dan jasa selama libur akhir tahun. Peningkatan mobilitas masyarakat melalui jalur darat, laut, dan udara berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas dan tarif transportasi.
"Yang terakhir, karena baseline di bulan Desember itu relatif cukup rendah ya, maka perlu ada semacam subsidi, supaya jangan sampai Desember year on year itu menaik-naik ke angka (inflasi) 3,5 persen, di atas 3,5 persen," ujar Tito di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Salah satu usulan yang disampaikan Tito adalah subsidi listrik untuk pelanggan dengan daya 1.200 watt. Dia menyebut kebijakan serupa pernah diterapkan pemerintah dan berdampak terhadap penurunan harga secara umum.
![Tiket pesawat. [Gemini AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/14/52075-tiket-pesawat.jpg)
"Di antaranya lah mungkin subsidi listrik ya, 1.200 watt. Itu pernah kita lakukan, itu langsung deflasi," katanya.
Selain listrik, Tito mengusulkan pemerintah mempertimbangkan penambahan pasokan BBM untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi menjelang akhir tahun.
"Nah kemudian subsidi lain, subsidi mungkin BBM, yang BBM-nya suplai-nya produksinya mungkin ditambah," ungkapnya.
Dia juga menyoroti tarif angkutan udara yang dinilai berkontribusi terhadap inflasi. Menurut Tito, pemerintah dapat mempertimbangkan subsidi angkutan udara untuk membantu menahan kenaikan biaya perjalanan masyarakat.
"Yang ketiga adalah subsidi angkutan udara, karena angkutan udara ini cukup menyumbang kenaikan," imbuhnya.
Tito turut meminta Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, mengumpulkan perwakilan maskapai untuk membahas tarif penerbangan selama periode liburan.
Dia berharap maskapai tidak menetapkan tarif pada batas tertinggi ketika jumlah penumpang meningkat. Menurutnya, kenaikan tingkat keterisian pesawat atau load factor dapat menjadi pertimbangan bagi maskapai untuk menawarkan harga yang lebih rendah.
"Keuntungan kan tetap ada, tapi jangan ambil keuntungan maksimal supaya tidak berpengaruh kepada inflasi," ujar Tito.
Berdasarkan data yang disampaikan Tito, inflasi tahunan atau year-on-year (YoY) pada September 2026 mencapai 3,28 persen. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi pemerintah sebesar 1,5–3,5 persen.
Namun, inflasi bulanan atau month-to-month (MoM) dari Agustus ke September tercatat naik 0,30 persen. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi kelompok makanan dan minuman, khususnya harga cabai rawit dan cabai merah akibat kekeringan di sejumlah daerah produksi.