- Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan pemerintah sedang mengkaji usulan insentif kendaraan hybrid yang ditargetkan diajukan tahun ini.
- Pemerintah meminta Toyota mempercepat pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai serta meningkatkan volume dan variasi ekspor otomotif ke Australia.
- Pertemuan pejabat pemerintah dan petinggi Toyota tersebut diadakan pada Rabu, 28 Oktober 2026, untuk merespons pergeseran pasar mobil baru.
Suara.com - Pemerintah mulai membahas rencana pemberian insentif untuk kendaraan hybrid, guna mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional. Usulan kebijakan tersebut ditargetkan dapat diajukan tahun ini.
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji mengatakan, pembahasan teknis telah dilakukan bersama kementerian terkait.
Pemerintah masih mengkaji bentuk dukungan yang tepat bagi kendaraan hybrid, dengan mempertimbangkan perbedaan karakteristiknya dari kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV).
"Kami sudah mulai melakukan pembahasan teknis dengan kementerian terkait. Besaran insentif yang akan diusulkan masih dalam proses kajian. Industri juga tidak meminta insentif yang sama dengan kendaraan listrik berbasis baterai, tetapi berharap tetap ada dukungan insentif," beber Sarmuji dalam keterangannya, seusai bertemu jajaran direksi Toyota Astra Motor (TAM) dan Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dikutip Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, insentif tersebut diharapkan dapat menjadi stimulus untuk memperkuat pasar otomotif nasional. Pasalnya, industri kendaraan masih membutuhkan dukungan kebijakan untuk mendorong pembelian mobil baru di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.
Selain membahas insentif hybrid, Sarmuji meminta Toyota mempercepat pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia.

Pemerintah ingin pengembangan industri otomotif nasional tidak hanya bertumpu pada kendaraan hybrid, tetapi juga mencakup teknologi kendaraan listrik sepenuhnya.
"Kami mendorong Toyota Indonesia untuk lebih fokus mengembangkan kendaraan listrik. Saat ini kendaraan hybrid sudah berjalan, bahkan Toyota telah memiliki fasilitas produksi baterai hybrid yang produknya diekspor. Namun, kami meminta agar pengembangannya tidak berhenti pada hybrid, melainkan terus melangkah ke kendaraan listrik berbasis baterai," tegas Sarmuji.
Nandi mengatakan, Toyota telah memproduksi model BEV bZ4X di Indonesia. Perusahaan juga sedang menyiapkan model kendaraan listrik lain yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik.
Di sisi lain, pemerintah mendorong peningkatan ekspor kendaraan produksi Indonesia, baik dari sisi volume, variasi model, maupun negara tujuan. Australia menjadi salah satu pasar yang dinilai memiliki peluang untuk memperluas penjualan kendaraan buatan dalam negeri.
Sarmuji menilai, kedekatan geografis Indonesia dengan Australia serta adanya perjanjian kerja sama ekonomi kedua negara dapat menjadi modal untuk meningkatkan daya saing produk otomotif nasional.
"Australia masih banyak mendapatkan pasokan kendaraan dari negara tetangga, padahal secara geografis Indonesia lebih dekat. Kita juga sudah memiliki perjanjian kerja sama ekonomi dengan Australia yang seharusnya dapat meningkatkan daya saing produk otomotif Indonesia," ungkapnya.
Ia juga mendorong Toyota mempertimbangkan produksi kendaraan double cabin di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar Australia.
Pemerintah, kata dia, siap mendukung perbaikan ekosistem industri apabila diperlukan untuk merealisasikan peluang ekspor tersebut.
Sarmuji menilai, pasar otomotif Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Berdasarkan data yang disampaikannya, rasio kepemilikan mobil di Indonesia baru sekitar 99 unit per 1.000 penduduk, jauh di bawah Malaysia yang mencapai sekitar 490 unit dan Thailand sekitar 275 unit per 1.000 penduduk.