IHSG Anjlok Parah Tembus Level 4.900, 624 Saham Luluh Lantak!

M Nurhadi

Selasa, 03 November 2026 | 16:57 WIB
IHSG Anjlok Parah Tembus Level 4.900, 624 Saham Luluh Lantak!
Ilustrasi [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • IHSG ditutup anjlok 3,78 persen ke level 4.904,28 pada hari Selasa, 3 November 2026.
  • Tekanan jual masif ini dipicu oleh aksi ambil untung serta sentimen negatif yang menimpa saham perbankan besar.
  • Analis memproyeksikan volatilitas tinggi akibat berbagai sentimen global dan domestik yang memengaruhi pemulihan pasar modal.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang sangat masif hingga terjun bebas memerah pada penutupan sesi perdagangan Selasa (3/11/2026). Laju indeks komposit terkoreksi tajam sebesar 192,54 poin atau ambrol 3,78 persen, memaksanya terperosok jauh ke bawah batas psikologis dan bertengger di level 4.904,28.

Padahal, pada awal pembukaan sesi, IHSG sempat menunjukkan sinyal positif dengan menembus level tertinggi harian (intraday high) di posisi 5.143,58, sebelum akhirnya luruh tanpa perlawanan hingga menyentuh titik terendahnya di 4.895,59.

Berdasarkan rekapitulasi data RTI Business, papan bursa didominasi oleh pergerakan negatif yang sangat ekstrem. Hanya tersisa 57 saham yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 624 saham lainnya luluh lantak ke zona merah, dan 37 saham stagnan tanpa pergerakan berarti.

Aktivitas jual beli di lantai bursa diramaikan oleh perputaran 26,88 miliar lembar saham yang ditransaksikan dengan frekuensi mencapai 1,38 juta kali. Total nilai transaksi harian tercatat menembus Rp11,60 triliun. Hantaman sentimen negatif yang merata di berbagai sektor ini secara langsung menggerus nilai kapitalisasi pasar (market cap) bursa domestik hingga menyusut ke angka Rp8.674,29 triliun.

Saham Big Banks dan Big Caps Jadi Korban Utama

Koreksi dalam yang dialami IHSG tidak terlepas dari aksi jual agresif yang menyasar saham-saham perbankan berkapitalisasi raksasa (big banks). Empat motor utama penggerak indeks di sektor finansial ini kompak mengalami penyusutan harga yang signifikan seiring dengan tingginya nilai transaksi pelepasan aset.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) harus merelakan harganya merosot 2,8 persen ke level Rp4.840 per lembar, sekaligus memimpin daftar nilai transaksi tertinggi di bursa yang mencapai Rp1,3 triliun. Tekanan serupa mendera PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang anjlok 5,67 persen ke posisi Rp2.660 dengan total transaksi Rp857,8 miliar.

Menyusul di belakangnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan koreksi sebesar 2,97 persen ke level Rp2.660 dengan total nilai transaksi mencapai Rp782,4 miliar. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turut menjadi sasaran distribusi dengan nilai transaksi Rp185,8 miliar yang menyeret harganya melemah 2,74 persen menjadi Rp3.200 per saham.

Gelombang aksi jual ini rupanya tidak hanya terkonsentrasi pada emiten perbankan. Jajaran saham big caps lintas sektor yang selama ini menjadi penopang portofolio investor institusi juga mencatatkan pelemahan harga, di antaranya saham TLKM, ANTM, BUMI, ASII, hingga AMMN.

baca juga

Di tengah kondisi bursa yang memprihatinkan, segelintir emiten lapis kedua dan ketiga masih mampu bermanuver mencetak keuntungan fantastis (top gainers). Saham TMPO memimpin penguatan dengan lonjakan 34,48 persen ke Rp234, dibuntuti oleh AIMS yang naik 24,49 persen menjadi Rp605, serta BSWD yang terbang 19,81 persen ke posisi Rp9.675 per saham.

Sebaliknya, jajaran saham pecundang (top losers) dengan penurunan terdalam dihuni oleh PACK yang anjlok 9,94 persen ke Rp308, ANTM yang merosot 6,98 persen ke Rp2.400, serta DMAS yang terkikis 6,98 persen menjadi Rp160.

Pemicu Anjloknya Indeks dan Lima Sentimen Kunci

Menyikapi fenomena kejatuhan bursa ini, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, membedah bahwa koreksi tajam IHSG diakibatkan oleh akumulasi dari berbagai sentimen. Faktor penekan tersebut meliputi agenda penyesuaian portofolio aset (rebalancing), maraknya aksi ambil untung (profit taking), serta mendominasinya sikap menghindari risiko (risk-off) di kalangan investor.

Nafan memproyeksikan bahwa volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi selama tekanan jual terus bergulir dan indeks gagal menembus kembali ke atas area psikologis 5.000 secara solid dan konsisten.

"Sebaliknya, pemulihan yang disertai peningkatan volume transaksi dan akumulasi saham-saham berkapitalisasi besar dapat menjadi indikasi membaiknya kepercayaan pasar," kata dia, dikutip dari Antara.

Melihat proyeksi hingga pengujung tahun, Nafan menilai bursa saham domestik masih harus melalui jalan terjal untuk membangun momentum rebound yang kokoh dan berkesinambungan.

"Pasar masih membutuhkan katalis positif yang kuat, terutama dari sisi perbaikan kepercayaan investor, stabilitas nilai tukar rupiah, serta konsistensi reformasi pasar modal," ujarnya.

Untuk memetakan arah angin di pasar, Nafan membeberkan lima sentimen fundamental krusial yang wajib dicermati secara ketat oleh para investor, terutama dari kalangan milenial dan profesional di kawasan urban.

Sentimen pertama bermuara pada evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap status klasifikasi pasar modal Indonesia, yang membawa risiko reklasifikasi turun kasta dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Faktor kedua berkaitan dengan dinamika kebijakan regulator bursa mengenai kewajiban peningkatan saham beredar di publik (free float), transparansi struktur kepemilikan saham, hingga evaluasi kualitas tata kelola emiten. Ketiga, ancaman nyata dari berlanjutnya arus modal keluar asing (capital outflow atau net foreign sell) yang dapat memberikan tekanan sistematis terhadap saham-saham berkapitalisasi raksasa.

Keempat, panggung ekonomi makro masih disetir oleh dinamika suku bunga global, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed), serta fluktuasi nilai tukar Rupiah yang secara langsung membentuk persepsi risiko investasi. Kelima, ketidakpastian geopolitik global yang memicu volatilitas harga komoditas sangat memengaruhi prospek kinerja deretan emiten yang bergerak di sektor energi, pertambangan, dan industri pengolahan.

Mengingat deretan sentimen berat tersebut, Nafan memproyeksikan pergerakan bursa masih akan dihantui oleh volatilitas tinggi hingga penutupan tahun buku 2026. Ia menekankan bahwa kebangkitan IHSG ke depan akan sangat bertumpu pada kesuksesan agenda reformasi struktural pasar modal dalam memulihkan kepercayaan investor kakap, khususnya aliran dana dari pemodal asing.

Dalam situasi pasar yang serba tidak menentu, ia menyarankan agar para pelaku pasar ritel mengerem ambisi spekulatif mereka.

"Investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan akumulasi secara agresif dan lebih mengutamakan strategi buy on weakness secara bertahap terhadap saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta likuiditas yang memadai," ungkapnya.

Perhatian khusus juga diberikan terhadap saham-saham yang kini masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC). Nafan mengimbau investor untuk lebih mawas diri dalam menyeleksi aset di kategori tersebut. Ia mengingatkan bahwa didepaknya saham-saham HSC dari formulasi perhitungan IHSG tidak lantas menjadikan saham tersebut kehilangan status layak investasi atau dihentikan perdagangannya.

Walau begitu, terdapat risiko tersembunyi yang patut diperhitungkan secara matang, mulai dari terbatasnya rasio saham publik (free float), tingginya konsentrasi kepemilikan di segelintir pihak, kendala likuiditas harian, hingga besarnya peluang fluktuasi harga yang sulit diprediksi. Saham-saham berlabel HSC ini dinilai akan kesulitan untuk memikat masuknya dana dari fund manager atau investor institusional yang memiliki pedoman investasi ketat berbasis indeks.

Sebagai navigasi portofolio di masa krisis, Nafan merekomendasikan investor untuk mengalihkan fokus pada emiten big caps yang memiliki rekam jejak likuiditas mumpuni dan fundamental kebal krisis.

"Beberapa sektor yang dapat menjadi perhatian adalah perbankan, consumer goods, telekomunikasi, dan otomotif," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bos CFX Buka-bukaan Soal Peralihan Investor Saham ke Kripto

Bos CFX Buka-bukaan Soal Peralihan Investor Saham ke Kripto

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 15:34 WIB

Raffi Ahmad Bikin RANS Anjlok Hingga 23%, Gimana Prospek Sahamnya?

Raffi Ahmad Bikin RANS Anjlok Hingga 23%, Gimana Prospek Sahamnya?

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 14:45 WIB

Saham TMPO Terbang 26 Persen, Influencer Timothy Ronald Kempit 1,26 Persen

Saham TMPO Terbang 26 Persen, Influencer Timothy Ronald Kempit 1,26 Persen

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 13:09 WIB

Laba MNC Bank Tergerus, Dana Deposito Kabur dan Kredit Bermasalah Membengkak

Laba MNC Bank Tergerus, Dana Deposito Kabur dan Kredit Bermasalah Membengkak

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 12:58 WIB

Emiten Prajogo Pangestu Borong Saham Rp830 Miliar, Siapkan Dana Rp4,5 Triliun

Emiten Prajogo Pangestu Borong Saham Rp830 Miliar, Siapkan Dana Rp4,5 Triliun

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 12:45 WIB

Akuisisi Saham Bayan oleh Haji Isam Disebut Bukan Kedaulatan Tambang, Cuma Pindah Tangan Oligarki

Akuisisi Saham Bayan oleh Haji Isam Disebut Bukan Kedaulatan Tambang, Cuma Pindah Tangan Oligarki

News | Selasa, 03 November 2026 | 14:10 WIB

Terkini

IHSG Anjlok Parah Tembus Level 4.900, 624 Saham Luluh Lantak!

IHSG Anjlok Parah Tembus Level 4.900, 624 Saham Luluh Lantak!

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 16:57 WIB

Cuan Puluhan Miliar! Jambu Mete dari Lahan Kering NTB Kini Tembus Pasar Internasional

Cuan Puluhan Miliar! Jambu Mete dari Lahan Kering NTB Kini Tembus Pasar Internasional

Bali | Selasa, 03 November 2026 | 16:52 WIB

MIND ID Tampilkan Peran Mineral bagi Kehidupan dalam Ajang Minerba Convex 2026

MIND ID Tampilkan Peran Mineral bagi Kehidupan dalam Ajang Minerba Convex 2026

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 16:48 WIB

Berapa Harga Parfum The Body Shop White Musk? Cek 4 Variannya

Berapa Harga Parfum The Body Shop White Musk? Cek 4 Variannya

Lifestyle | Selasa, 03 November 2026 | 16:48 WIB

Jelang Diresmikan Prabowo 10 November, Perlinsos Digital Sudah Jangkau 17 Juta KK

Jelang Diresmikan Prabowo 10 November, Perlinsos Digital Sudah Jangkau 17 Juta KK

News | Selasa, 03 November 2026 | 16:46 WIB

Sinopsis Overacting, Film Komedi Thailand Terbaru Netflix Tayang 5 November

Sinopsis Overacting, Film Komedi Thailand Terbaru Netflix Tayang 5 November

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 16:45 WIB

Beasiswa Pendidikan Bhimasena Power Indonesia 2026 Dukung Mahasiswa Kabupaten Batang

Beasiswa Pendidikan Bhimasena Power Indonesia 2026 Dukung Mahasiswa Kabupaten Batang

Jawa Tengah | Selasa, 03 November 2026 | 16:37 WIB

Apa Perbedaan Kulkas Inverter vs Non Inverter Hemat Listrik?

Apa Perbedaan Kulkas Inverter vs Non Inverter Hemat Listrik?

Lifestyle | Selasa, 03 November 2026 | 16:35 WIB

Geger Kabar Jenderal Ditangkap dan Diperiksa Propam, Mabes Polri Gelar Konferensi Pers Malam Ini!

Geger Kabar Jenderal Ditangkap dan Diperiksa Propam, Mabes Polri Gelar Konferensi Pers Malam Ini!

News | Selasa, 03 November 2026 | 16:33 WIB

Transportasi Publik Sudah Menjangkau 92,5 Persen Wilayah, Jakarta Kejar Target Kota Global 2045

Transportasi Publik Sudah Menjangkau 92,5 Persen Wilayah, Jakarta Kejar Target Kota Global 2045

News | Selasa, 03 November 2026 | 16:31 WIB

×