Istilah criollos untuk menggambarkan pesepakbola di Argentina sudah mulai disuarakan sejak 1920, sejumlah media ternama seperti El Grafico sempat memuat ulasan tentang hal tersebut dengan tajuk picardía y astucia (kelicinan dan kelicikan) para criollos.
Sepakbola di Argentian sejak era 1920 memang disajikan sebagai saluran mobilitas sosial tidak hanya berdasarkan bakat semata namun juga representatif dari nilai dan karekter asal usul etnis si pemain.
Kondisi ini tentu saja juga meresep ke barisan para pendukung klub hingga pada akhirnya akar konflik yang terjadi di detik-detik sebelum kick off laga River Plate vs Boca Juniors tak bisa dilepaskan dari kekhasan ini.
Khusus di Buenos Aires, kota yang jadi tempat konflik kedua suporter ini juga tak jauh berbeda dari banyak kota di negera berkembang lainnya.
Di sana merupakan tempat berkumpulnya para penduduk asli serta imigran dari banyak etnis, kesemuanya sama-sama berlomba-lomba untuk menunjukkan eksitensi, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, hingga sepakbola.
Kondisi ini yang tak bisa diantisipasi dengan baik oleh federasi sepakbola Argentina, termasuk federasi sepakbola di sejumlah negara berkembang. Sejumlah federasi sepakbola di negara berkembang gagal menerjemahkan akar masalah suporter ini hingga pada akhirnya membuat konflik ini semakin menahun dan meluas.
Apa yang terjadi di Argentina, juga terjadi di negara tetangga mereka, Brasil, serta negara-negara dunia ketiga lainnya, termasuk di Indonesia.
Karenanya David Goldblatt dari University of Bristol menekankan pentingnya kajian sosilogi di ranah sepakbola untuk mendapat solusi tepat mengatasi permasalahan konflik suporter ini.
Sosiologi sepakbola kata Goldblatt akan mampu mendekontruksi norma perilaku para suporter.
"Yah kadang itu bisa digunakan mendekontruksi normal perilaku kekerasan antar suproter. Bagaimana pola pikir para suporter yang bertindak ricuh serta bagaimana aparat bertindak untuk mencegahnya," kata Goldblatt sepeti dilansir dari socialsciencespace.com