- Harga tiket pesawat domestik berpotensi naik hingga 50%
- Rupiah tembus Rp17.645 per dolar AS, terlemah sepanjang sejarah
- Garuda masih dibayangi utang jumbo berbasis dolar AS
Suara.com - Di tengah lonjakan harga avtur dan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), PT Garuda Indonesia kini berada dalam tekanan ganda yang berpotensi menghantam kinerja keuangan perusahaan lebih dalam lagi.
Kondisi tersebut makin diperparah setelah Kementerian Perhubungan resmi mengizinkan maskapai menaikkan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar hingga maksimal 50% dari tarif batas atas tiket pesawat domestik kelas ekonomi.
Kebijakan itu tertuang dalam KM 1041 Tahun 2026 yang mulai berlaku sejak 13 Mei 2026. Pemerintah berdalih langkah ini diperlukan demi menjaga keberlangsungan industri penerbangan nasional di tengah kenaikan harga avtur domestik yang kini menembus Rp29.116 per liter.
Artinya, masyarakat harus mulai bersiap menghadapi lonjakan harga tiket pesawat domestik yang berpotensi naik signifikan dalam beberapa waktu ke depan.
Namun di balik kebijakan tersebut, ada persoalan yang jauh lebih serius bagi Garuda Indonesia. Sebab, maskapai pelat merah itu bukan hanya dihantam kenaikan biaya operasional akibat mahalnya avtur, tetapi juga masih dibebani utang jumbo yang sebagian besar berbentuk dolar AS.
Masalahnya, rupiah kini sedang berada di titik nadir.
Mengacu data Reuters per Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah ambruk ke level Rp17.645 per dolar AS atau melemah 1,17% dibanding hari sebelumnya. Posisi ini bahkan menjadi level terlemah sepanjang sejarah rupiah di pasar spot intraday.
Bagi Garuda, pelemahan rupiah adalah mimpi buruk yang nyata. Sebab mayoritas kewajiban perusahaan, mulai dari sewa pesawat, obligasi, hingga pinjaman jangka panjang menggunakan denominasi dolar AS.
Berdasarkan laporan posisi keuangan terbaru, total liabilitas Garuda masih mencapai US$7,33 miliar. Meski turun dari sebelumnya US$7,97 miliar, angka tersebut tetap mencerminkan besarnya tekanan yang harus ditanggung perseroan di tengah proses restrukturisasi yang belum sepenuhnya selesai.
Beban terbesar berasal dari liabilitas jangka panjang yang mencapai US$5,99 miliar. Salah satu komponen paling besar ialah liabilitas sewa pembiayaan jangka panjang sebesar US$2,03 miliar yang berkaitan langsung dengan pembiayaan armada pesawat.
![Nilai tukar rupiah menguat 0,30 persen ke level Rp17.475 terhadap dolar AS pada penutupan Rabu sore, 13 Mei 2026. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/70066-nilai-tukar-rupiah.jpg)
Selain itu, Garuda juga masih memiliki utang pinjaman jangka panjang lainnya sebesar US$2,32 miliar. Belum lagi utang obligasi jangka panjang sebesar US$599 juta dan utang bank jangka panjang mencapai US$639 juta.
Di sisi lain, tekanan likuiditas jangka pendek juga belum reda. Garuda masih menanggung beban akrual jangka pendek sebesar US$309 juta, pendapatan diterima dimuka sebesar US$290 juta, serta liabilitas sewa pembiayaan jatuh tempo dalam satu tahun senilai US$292 juta.
Kombinasi mahalnya avtur dan melemahnya rupiah menjadi ancaman serius bagi industri penerbangan nasional, terutama bagi maskapai yang masih memiliki ketergantungan besar terhadap utang dolar AS seperti Garuda.
Di satu sisi, maskapai dipaksa menaikkan tarif demi menjaga napas bisnis. Namun di sisi lain, daya beli masyarakat terhadap tiket pesawat justru berisiko melemah akibat harga yang makin mahal.