Siapa sangka bocah yang dulu hidup di pengungsian sukses meraih penghargaan Ballon d'Or 2018, penghargaan tertinggi bagi pesepakbola di dunia.
Luka Modric yang mengalami masa kelam saat kecil kini boleh berbangga hati karena mampu mengalahkan pesepakbola hebat yang dalam beberapa tahun terakhir mendominasi gelar tersebut, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Sebelumnya, pada September 2018 lalu Modric juga mampu meraih gelar The Best FIFA Football Awards. Saat itu, Modric mengumpulkan 29,05 persen suara, unggul atas Cristiano Ronaldo (19,08 persen) dan Mohamed Salah (11,23 persen).
Terpilihnya Modric ini juga memutus dominasi gelar pemain terbaik dunia yang selama ini jadi domain Ronaldo dan Messi.
"Ada perasaan luar biasa. Saya merasa bangga atas penghargaan ini," kata Modric. Singkat, jelas, dan padat.
Sedikit kilas balik tentang masa kecil gelandang berusia 33 tahun ini, Modric semasa kecil terbiasa hidup dengan suara ledakan granat tiap malam. Hanya sepakbola yang kemudian jadi alat hiburan untuk dirinya lepas dari ketakutan itu semua.
Saat mulai bermain sepabola, seorang pelatihnya sempat mengatakan bahwa dirinya sangat pemalu dan akan sulit untuk jadi bintang besar seperti cita-citanya.
Trauma masa lalu memang membuat Modric jadi sosok yang tertutup dan pemalu. Setelah bergabung ke akademi Zadar dengan uang dari sisa gaji sang ayah yang jadi tentara, Modric berusaha merentas karier di lapangan hijau.
Saat umur 6 tahun, Modric juga mengalami kejadian yang begitu membekas dalam hidupnya. Sang kakek, Luka bersama dengan 6 orang tetangganya pada Desember 1991 harus dieksekusi mati oleh tentara Serbia yang tak setuju Kroasia lepas dan jadi negara merdeka.
Baca Juga: Timnas Kroasia Rilis Skuad Piala Dunia 2022, Masih Andalkan Luka Modric
Sang ayah yang sebelum perang kemerdekaan Kroasia berprofesi sebagai pekerja tekstil mau tak mau ikut angkat senjata dan bergabung ke tentara Kroasia.
Usai mengeksekusi sang kakek, tentara Serbia dibantu oleh barisan milisi bayaran membakar habis seluruh rumah di desa Jesenice. Rumahnya rata dibakar si jago merah. Bersama dengan sang ibu dan keluarga yang lain ia menjadi pengungsi.
Melihat kepribadian Modric baik saat beraksi di tengah lapangan atau di luar lapangan, kita seperti melihat sosok seorang Autotelis.
Psikolog, Mihaly Csikszentmihalyi menyebut bahwa seorang autotelis hanya membutuhkan sedikit harta materi, sedikit hiburan, kenyamanan, kekuasaan. Mereka kebanyakan kurang tergantung pada penghargaan eksternal yang bagi kebanyakan orang jadi motivasi tambahan untuk melanjutkan kehidupan mereka.
Dari pemaparan Csikszentmihalyi soal konsep autotelis, kita bisa melihat itu dari seorang Luka Modric.
Tidak seperti Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi yang begitu menganggap penghargaan eksternal begitu penting dalam kariernya, Modric menjalani hidupnya di lapangan hijau dengan 'santai'.