Array

Kisah Klub Bola Bakrie di Australia dan Skandal Kaos Murahan

Liberty Jemadu Suara.Com
Kamis, 22 Februari 2018 | 08:00 WIB
Kisah Klub Bola Bakrie di Australia dan Skandal Kaos Murahan
Kesebelasan Brisbane Roar yang bermain di kompetisi sepak bola Australia. [Shutterstock]

Suara.com - Akhir-akhir ini, media di Australia gencar melaporkan permasalahan tim Brisbane Roar, klub sepak bola di Australia yang dimiliki oleh kelompok usaha Bakrie dari Indonesia.

Pada akhir Januari tahun ini, Roar dikalahkan oleh juara Filipina, Ceres Negro, dalam pertandingan Asian Football Confederation. Sangat sedikit penonton yang datang pada pertandingan tersebut. Direktur operasi klub sepak bola tersebut, bekas pemain Queens Park Rangers di Liga Inggris, dipecat setelah ada kejadian dengan seragam tim.

Di tengah-tengah pertandingan, nomor baju para pemain terkelupas dari baju-baju seragam mereka. Salah satu media di Inggris menyebut kejadian tersebut “bizzare kit row” atau masalah seragam yang aneh.

Dua tahun sebelumnya, kondisi keuangan klub sepak bola ini bermasalah, gaji para pemain tidak dibayar tepat waktu.

Koran Courier Mail melaporkan bahwa kelompok Bakrie “berkukuh” tidak menjual klub sepak bola Roar, karena tawaran yang datang dianggap terlalu rendah.

Saya menulis ini dari Jakarta. Berita mengenai “masalah seragam pemain” seharusnya menarik ditampilkan di pers lokal, terutama mengingat pemilik Roar adalah perusahaan Indonesia—tapi belum ada laporan tentang hal itu.

Untuk memahami mengapa, kita harus lihat posisi Brisbane Roar di antara aset lain konglomerat Bakrie dan posisi Bakrie Group sendiri dalam dunia bisnis dan media di Indonesia.

Konsentrasi kepentingan elite

Beberapa konglomerat, termasuk kelompok Bakrie, menguasai industri media Indonesia yang berkembang pesat dalam dua puluh tahun sejak jatuhnya rezim Orde Baru.

Konglomerat-konglomerat tersebut memanfaatkan 10 stasiun TV nasional dan lebih dari seribu media cetak dan daring di Indonesia untuk meningkatkan pengaruhnya. Isi media massa sering dipengaruhi arah politik pemiliknya.

Ini mirip dengan situasi di Italia. Mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi juga pengusaha media. Ia juga punya saham di Klub AC Milan hingga 2017, di samping punya aset real estate dan bangunannya.

Secara kebetulan, saat ini pengusaha media Indonesia Eric Thohir adalah ketua dan dan pemegang saham minoritas tim lawan AC Milan, Inter Milan. Mahaka Group-nya Eric Thohir memiliki stasiun radio komersial yang popular, Gen FM, serta harian cetak dan digital Islam yang cukup besar, yaitu Republika.

Seperti Erick Thohir dan Surya Paloh, pemilik Metro TV yang aktif berpolitik, Bakrie telah mencampuradukkan kepemilikan media (termasuk stasiun TV yang populer), bisnis, dan pengaruh politik.

Sepertinya, memiliki (sebagian atau sepenuhnya) klub sepak bola adalah pekerjaan sampingan bagi mereka.

Bisnis yang bertahan

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI