-
Banyak pemain diaspora Timnas Indonesia hijrah ke klub-klub besar di BRI Super League.
-
Thom Haye dan Jordi Amat tampil gemilang, sementara Rafael Struick masih kesulitan mencetak gol.
-
Persaingan ketat di liga domestik membuat beberapa pemain Eropa sulit mendapatkan menit bermain.
Suara.com - Kegagalan Timnas Indonesia menembus Piala Dunia 2026 memicu tren baru di bursa transfer pemain keturunan Indonesia ke Super League Liga Indonesia.
Banyak penggawa diaspora yang sebelumnya merumput di Benua Biru kini memilih berkarier di tanah air.
BRI Super League musim 2025/2026 menjadi pelabuhan baru bagi para pemain hasil proyek naturalisasi tersebut.
Berbekal pengalaman berkompetisi di Eropa, kehadiran mereka diharapkan mampu mendongkrak kualitas liga domestik Indonesia.
Namun realita di lapangan menunjukkan bahwa nama besar di Eropa tidak menjamin kesuksesan instan.
Jordi Amat menjadi representasi pemain yang sukses melakukan transisi dengan sangat mulus musim ini.
Bek veteran berusia 33 tahun tersebut menunjukkan konsistensi tinggi saat berseragam Macan Kemayoran, Persija Jakarta.
Hingga saat ini, tercatat sudah 21 laga ia lakoni dalam ketatnya persaingan kasta tertinggi sepak bola.
Perannya kini bertransformasi menjadi gelandang bertahan yang sangat tangguh di bawah arahan tim kepelatihan.
Baca Juga: Persija Terancam Musafir Lagi saat Hadapi Dewa United? Kondisi JIS Jadi Sorotan
Kematangan mentalnya membuat lini tengah Persija menjadi lebih stabil sepanjang bergulirnya kompetisi musim ini.
Di sisi lain, nasib kurang beruntung harus dialami oleh penyerang muda andalan, Rafael Struick.
Pemain yang membela Dewa United ini sebenarnya berharap bisa menemukan kembali ketajamannya yang sempat hilang.
Sayangnya, dalam 11 penampilan yang sudah dilalui, belum ada satu pun gol tercipta dari kakinya.
Struick bahkan mulai akrab dengan bangku cadangan karena menit bermainnya perlahan-lahan mulai terkikis habis.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan ekspektasi besar yang dibebankan publik saat ia pertama kali datang.