- Lionel Messi bersama Inter Miami mengunjungi Gedung Putih untuk merayakan juara MLS dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
- Messi memberikan bola sepak berkilau kepada presiden dan berjalan masuk bersama Trump, meskipun ia tidak memberikan komentar politik.
- Seorang profesor menilai kunjungan ini mungkin bagian strategi jangka panjang terkait koneksi Messi dengan komunitas Miami yang konservatif.
Suara.com - Kunjungan Lionel Messi ke Gedung Putih bersama skuad Inter Miami memicu banyak pertanyaan.
Selama ini megabintang Argentina itu dikenal selalu menjaga jarak dari politik, tetapi kehadirannya di acara bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dianggap sebagai momen yang tidak biasa.
Messi hadir di Gedung Putih untuk merayakan keberhasilan Inter Miami menjuarai Major League Soccer. Tradisi ini memang lazim di Amerika Serikat, di mana tim juara kompetisi besar diundang bertemu presiden.
Dalam acara tersebut, Messi bahkan berjalan masuk bersama Trump dan pemilik Inter Miami, Jorge Mas Santos.
Messi juga memberikan bola sepak berwarna merah muda berkilau kepada presiden Amerika Serikat itu.
Meski menjadi pusat perhatian, Messi tidak memberikan komentar selama acara berlangsung. Namun kehadirannya tetap memicu berbagai spekulasi mengenai sikap politiknya.
![Lionel Messi saat bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/07/92894-messi-trump.jpg)
Selama ini, Messi dikenal sebagai sosok yang sangat berhati-hati terhadap isu politik.
Bahkan setelah Argentina menjuarai Piala Dunia 2022, tim yang dipimpinnya tidak mengunjungi Casa Rosada, kantor presiden Argentina saat itu.
Situasi ini berbeda dengan legenda Argentina lainnya, Diego Maradona.
Si Tangan Tuhan dikenal vokal dalam politik dan secara terbuka mendukung tokoh seperti Fidel Castro dan Hugo Chávez.
Profesor hubungan internasional dari Georgia Tech, Kirk Bowman, menilai kunjungan Messi ke Gedung Putih sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.
Menurutnya, keputusan tersebut bisa berkaitan dengan strategi jangka panjang sang pemain.
“Dia selalu berpikir dalam jangka panjang, baik dalam karier sebagai pemain maupun dalam membangun kekayaan,” kata Bowman dilansir dari WLNS
Bowman juga menyoroti hubungan Messi yang kini sangat kuat dengan kota Miami.
Ia menyebut komunitas sepak bola di kota tersebut cenderung lebih konservatif dibandingkan wilayah lain di Amerika Serikat.
“Dia sangat terhubung dengan komunitas Miami, yang secara politik lebih konservatif dibanding banyak kota lain di AS,” ujarnya.
Dalam acara itu, Messi berdiri di samping Trump ketika presiden berbicara tentang berbagai isu internasional, termasuk Iran, Kuba, dan Venezuela.
Di akhir pidato, Messi sempat terlihat memberikan tepuk tangan.
Pelatih Inter Miami, Javier Mascherano, menegaskan bahwa kunjungan tersebut hanyalah bagian dari protokol.
Ia mengatakan tim hanya mengikuti tradisi yang sudah lama berlaku di Amerika Serikat.
“Kami mengikuti protokol yang memang sudah menjadi tradisi ketika sebuah tim juara mengunjungi Gedung Putih,” kata Mascherano.
Mascherano juga menegaskan interaksi tim dengan Trump tidak lebih dari yang terlihat di televisi.
Ia menyebut rombongan Inter Miami hanya menghabiskan beberapa jam di sana.
“Kontak dengan Trump ya seperti yang kalian lihat di TV, tidak lebih dari itu,” ujarnya.
Meski begitu, sejumlah pengamat menilai Messi kemungkinan tetap akan menjaga jarak dari politik.
Bowman menilai sang pemain lebih fokus menjaga citra global yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun.
“Saya rasa Messi tidak benar-benar nyaman bersikap politis,” kata Bowman. “Dia hanya akan terlibat jika hal itu tidak merusak citra ‘Brand Messi’.”
Kontributor: Azka Putra