-
PSSI mengancam perpanjangan larangan suporter tandang musim depan akibat maraknya kerusuhan di liga.
-
Insiden terbaru bentrokan Persijap vs Persis Solo memicu evaluasi ketat terkait keamanan stadion.
-
Arya Sinulingga menegaskan keselamatan nyawa adalah prioritas utama dibandingkan sekadar mengizinkan suporter tandang.
Suara.com - PSSI tidak menutup kemungkinan memperpanjang larangan tur tandang bagi suporter pada musim depan. Opsi tersebut muncul setelah sejumlah keributan antarsuporter masih terjadi sepanjang kompetisi BRI Super League 2025/2026.
Insiden terbaru terjadi setelah pertandingan antara Persijap Jepara melawan Persis Solo di Stadion Gelora Bumi Kartini pada Kamis (5/3/2026).
Seusai laga tersebut, bentrokan antarpendukung kedua tim dilaporkan terjadi dan kembali menambah daftar konflik suporter di sepak bola nasional.
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menilai kejadian seperti ini menunjukkan bahwa sebagian suporter seakan melupakan tragedi besar yang pernah mengguncang sepak bola Indonesia.
"Ini suporternya lupa sama tragedi Kanjuruhan dan lain-lain. Jadi, mereka lupa sepertinya, itu yang membuat kami sedih juga," kata Arya kepada awak media.
Larangan tur tandang sebenarnya sudah diberlakukan PSSI dalam tiga musim terakhir sebagai upaya menjaga keamanan pertandingan.
Namun, dalam praktiknya masih ada sebagian suporter yang tetap nekat datang ke stadion lawan meski berisiko membuat klub kesayangannya terkena sanksi dari Komite Disiplin PSSI.
Di sisi lain, Arya mengakui ada beberapa pertandingan yang berlangsung kondusif meskipun melibatkan suporter tamu. Meski begitu, jumlahnya dinilai masih sangat sedikit dibandingkan insiden yang terjadi.
"Sebenarnya kami sudah bilang tidak boleh tandang, tapi tetap saja dilanggar. Kemarin juga ada itu satu pertandingan tandang, itu bagus antarsuporter, terus saya ditanya, 'Ini bagus, ayo dong buka away-nya'. Ternyata, itu hanya satu, ini hanya satu," jelasnya.
Baca Juga: BRI Super League: Motivasi Persik Berlipat Hadapi Persib Meski dengan Persiapan Singkat
PSSI menilai persoalan ini bukan sekadar pelanggaran aturan, melainkan menyangkut keselamatan banyak pihak di stadion. Federasi tidak ingin tragedi yang merenggut korban jiwa kembali terulang di sepak bola Indonesia.
"Ini tidak hanya satu. Ini menyangkut nyawa gitu. Kita berharap teman-teman suporter bisa ingat janji kita ketika masuk stadion itu bajunya putih, keluar juga bajunya putih, jangan ada warna lain yang membuat kita celaka," ucap Arya.
"Buat apa kita harus ada korban-korban lagi, emosi yang ada di situ terus, buat apa. Itu jadi pertanyaan kita juga. Maka dari itu, sampai sekarang kami tetap membuat larangan away."
"Sekarang kita sedang diskusi. Kenapa diskusi? Di PSSI kita sedang diskusi. Karena sekarang lagi menuju kondisi-kondisi yang rawan, kan ini menuju akhir musim. Jadi, ini kondisi rawan," ia menambahkan.
Menurut Arya, situasi kompetisi yang semakin panas menjelang akhir musim membuat potensi konflik antarsuporter juga meningkat.
Persaingan ketat di papan atas untuk perebutan gelar maupun di papan bawah untuk menghindari degradasi dinilai bisa memicu emosi berlebih di tribun.