- Media Vietnam menyoroti kritik pengamat Slovenia, Jernel Kamensek, yang menilai Indonesia dan Thailand belum banyak melahirkan pemain bertalenta luar biasa.
- Kamensek mencontohkan Jan Oblak dan Benjamin Sesko yang sukses berkat sistem pembinaan usia muda terstruktur, dan menyoroti kiprah Marselino serta Egy.
- Sang pengamat menyarankan negara ASEAN untuk memberikan dukungan finansial penuh agar pemain muda tidak takut berkarier dan berlatih di luar negeri.
Suara.com - Sepak bola Asia Tenggara kembali menjadi sorotan tajam setelah Media Vietnam mengutip pernyataan kritis dari seorang Pengamat Sepak Bola asal Slovenia, Jernel Kamensek.
Pakar Eropa tersebut secara terang-terangan menyebut bahwa Timnas Indonesia dan Thailand masih belum mampu melahirkan banyak pemain berkualitas di kancah dunia.
Pernyataan tajam tersebut diutarakan oleh Jernel Kamensek dan dipublikasikan secara luas oleh media ternama negara Vietnam, VNExpress.
![Timnas Indonesia berfoto bersama sebelum pertandingan penyisihan grup A ASEAN U-17 Boys Championship atau AFF U-17 di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jawa Timur, Senin (13/4/2026). [ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/sgd]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/14/24674-aff-u-17-2026-timnas-indonesia-u-17-vs-timor-leste-skuad-timnas-indonesia-u-17-2026.jpg)
Ia menyoroti lambatnya perkembangan talenta muda di kawasan Asia Tenggara jika dibandingkan dengan standar tinggi sepak bola Eropa.
Dalam keterangannya, pengamat sepak bola ini sebenarnya mengakui keterbatasannya dalam memahami sistem akar rumput di kawasan ASEAN secara mendalam.
“Sejujurnya, saya tidak terlalu mengenal sistem pembinaan usia muda di Thailand maupun Indonesia,” ujar Jernel Kamensek, dikutip dari VNExpress.
Meski demikian, ia menggunakan kacamata hasil akhir untuk menilai efektivitas program regenerasi di kedua negara raksasa Asia Tenggara tersebut.
“Namun, Timnas Indonesia dan Thailand belum banyak menghasilkan pemain yang benar-benar bertalenta luar biasa,” lanjut Kamensek.
Bandingkan dengan Bintang Kelas Dunia Asal Slovenia
Kritik tersebut sengaja ia lontarkan untuk menyoroti betapa krusialnya membangun sistem pembinaan jangka panjang yang kuat dan terstruktur.
Ia lantas membandingkan lambatnya kemunculan bintang Asia Tenggara dengan sistem regenerasi atlet yang berjalan mulus di negara asalnya, Slovenia.
Kamensek mengambil contoh nyata dari perjalanan karier kiper andalan Atletico Madrid, Jan Oblak, dan striker tajam RB Leipzig, Benjamin Sesko.
Kedua nama besar tersebut dinilainya merupakan produk asli dari sistem pembinaan remaja yang berjalan dengan sangat terarah.
“Saya mengikuti perkembangan Jan Oblak sejak usia 15 tahun, dan Benjamin Sesko sejak 13 tahun," ungkapnya.
"Mereka adalah pesepakbola kelas dunia yang sudah dikenal sejak remaja,” kata Kamensek menambahkan penjelasannya.
Soroti Kiprah Marselino Ferdinan dan Egy Maulana Vikri
Menurutnya, mengandalkan bakat alam semata tanpa didukung oleh kurikulum jangka panjang tidak akan pernah cukup untuk menembus level elite.
Pengamat asal Eropa ini juga tak luput menyoroti kiprah beberapa pemain andalan Merah Putih yang tengah atau pernah berkarier di luar negeri.
Nama-nama familier seperti Marselino Ferdinan hingga Egy Maulana Vikri turut menjadi bahan perbincangan dalam analisisnya.
Menurut pandangannya, para pemain abroad tersebut masih belum mampu menunjukkan performa paling maksimal saat bersaing di level tertinggi Eropa.
Fakta di atas lapangan tersebut dianggapnya sebagai indikator utama betapa mendesaknya perbaikan sistem sepak bola secara menyeluruh.
Solusi Finansial untuk Sepak Bola Asia Tenggara
Menutup kritikannya, Kamensek memberikan sebuah saran taktis bagi negara-negara Asia Tenggara agar bisa segera mengejar ketertinggalan.
Ia menegaskan bahwa investasi finansial dan keberanian pemain untuk merantau menjadi dua kunci utama bagi kemajuan olahraga ini.
“Perlu dana untuk mendukung pemain agar bisa mengikuti sistem pelatihan terbaik di dunia,” ujar Kamensek memberikan solusi.
Dukungan dana yang memadai diyakini akan membuat para pemain muda lebih berani mengambil risiko untuk menimba ilmu di benua biru.
“Para pemain ini membutuhkan dukungan finansial agar tidak takut bermain di luar negeri,” tambahnya memungkasi analisis tersebut.
Komentar dari pengamat Slovenia ini muncul di tengah gencarnya upaya PSSI yang kini mulai rajin mengirim talenta muda serta menaturalisasi pemain didikan Eropa demi mendongkrak prestasi instan Timnas Indonesia di kancah global.
Kontributor : Imadudin Robani Adam