- N.E.C. Nijmegen tampil sensasional dengan gaya sepak bola ofensif ekstrem yang membawa mereka ke posisi ketiga Eredivisie dan final KNVB Cup.
- Kesuksesan klub didukung oleh investor miliarder lokal, Marcel Boekhoorn, yang berkomitmen membangun tim demi memenuhi janji kepada mendiang ayahnya.
- Filosofi Total Football modern yang diterapkan pelatih Dick Schreuder menjadikan N.E.C. salah satu tim paling menarik dan produktif di kompetisi Eropa musim ini.
Suara.com - N.E.C. Nijmegen, mantan klub yang pernah dibela oleh bek Timnas Indonesia Calvin Verdonk, kini tengah menjadi fenomena di jagat sepak bola Eropa.
Berlokasi di tengah hutan Goffertpark, Nijmegen, klub yang sempat dianggap medioker ini menjelma menjadi kekuatan yang ditakuti berkat gaya permainan ofensif yang "gila" di bawah arahan pelatih Dick Schreuder.
Kini, tim yang baru saja berjuang di papan bawah Eredivisie ini berada di ambang sejarah terbesar dalam 125 tahun berdirinya klub, dengan ambisi menembus kompetisi elit Liga Champions musim depan.
Filosofi "Sepak Bola Gila" Dick Schreuder
![Bek Timnas Indonesia, Calvin Verdonk saat bermain untuk NEC Nijmegen. [Dok. IG Calvin Verdonk]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/08/61022-calvin-verdonk-saat-bermain-untuk-nec-nijmegen.jpg)
Gaya permainan N.E.C. sering digambarkan oleh suporter maupun pengamat sebagai tindakan yang nekat, atau bahkan cenderung ceroboh bagi mata orang awam.
Ini adalah bentuk modern dari Total Football yang dulu dipopulerkan oleh Rinus Michels dan Johan Cruyff bersama Ajax Amsterdam di tahun 1970-an, sebuah filosofi yang selalu dirindukan oleh penggemar sepak bola Belanda.
Filosofinya sangat sederhana: "Di sini, kami menendang bola, kami berlari ke depan, dan kami mencetak gol," ujar salah satu suporter setia klub.
Pelatih Dick Schreuder, yang pernah menimba ilmu di Barnet (Inggris) dan Philadelphia Union (MLS), adalah otak di balik transformasi radikal ini.
Setelah sukses mengangkat performa PEC Zwolle, ia kini sukses menyihir Nijmegen dengan catatan 74 gol di Eredivisie musim ini, hanya terpaut tipis dari sang juara PSV Eindhoven.
Strategi Taktikal yang Mendobrak Pakem
Jika dilihat di atas kertas, N.E.C. mungkin terlihat menggunakan formasi 3-4-2-1, namun di lapangan, pergerakan mereka jauh lebih dinamis dan tak terduga.
Para bek sayap bermain layaknya pemain sayap murni, sementara gelandang serang mereka bertransformasi menjadi penyerang tambahan.
Bahkan, bek tengah mereka tidak ragu untuk maju hingga ke dalam kotak penalti lawan untuk menciptakan keunggulan jumlah pemain.
"Rotasi semacam ini membuat lawan sangat kebingungan dalam menjaga pemain. Semua orang bisa berada di mana saja, kecuali kiper," tulis laporan ESPN.
Meski berisiko tinggi saat terjadi serangan balik, statistik membuktikan efektivitas taktik ini dengan catatan kemenangan telak yang kerap diraih sepanjang musim.
Didukung Investasi dari Miliarder Lokal
Kesuksesan luar biasa N.E.C. tak lepas dari campur tangan investor mayoritas, Marcel Boekhoorn, seorang miliarder yang lahir dan besar di Nijmegen.
Ia mengelola klub bukan sekadar sebagai bisnis, melainkan janji suci kepada ayahnya di saat-saat terakhir sebelum meninggal untuk menjaga tim kebanggaan kota tersebut.
Dukungan finansialnya membuat klub tidak perlu terburu-buru menjual pemain bintang, bahkan mereka sempat menolak tawaran 15 juta euro dari Ajax untuk gelandang muda Kodai Sano.
Boekhoorn juga dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang nyentrik, termasuk sering mengajak pemain baru berkunjung ke kebun binatang miliknya, Ouwehands Zoo.
Kombinasi antara stabilitas finansial, manajemen scouting yang jenius, dan filosofi bermain yang menyerang membuat seluruh kota Nijmegen kini bermimpi tentang kejayaan di Eropa.
Latar Belakang Kebangkitan N.E.C. Nijmegen
Sejak promosi kembali ke kasta tertinggi pada 2021, N.E.C. sempat menghabiskan sebagian besar waktunya sebagai tim papan tengah yang sekadar berjuang menghindari zona degradasi.
Namun, musim 2026 menjadi titik balik bersejarah bagi klub kecil yang bermarkas di stadion berkapasitas 12.500 penonton tersebut.
Dengan sisa empat laga di liga dan final KNVB Cup di depan mata, masyarakat Nijmegen kini tengah menanti apakah "sepak bola gila" mereka akan berujung pada trofi pertama dalam sejarah 125 tahun klub.
NEC Nijmegen akan menghadapi AZ Alkmaar di final Piala KNVB pada 19 April mendatang. Selain itu, mereka masih berpeluang lolos ke Liga Champions, mengingat posisinya yang menduduki urutan ketiga dengan 54 poin, hanya terpaut satu poin dari Feyenoord di urutan kedua.