- Firman Utina melontarkan kritik tajam kepada staf pelatih yang terlibat kericuhan dalam laga EPA U-20 antara Bhayangkara FC dan Dewa United.
- Legenda Timnas ini menyindir oknum pelatih dengan kalimat "bukan preman" dan mengingatkan agar serius saat mengikuti kursus kepelatihan untuk menjaga etika.
- Insiden di Stadion Citarum dipicu oleh tendangan kungfu Fadly Alberto Hengga yang meluas hingga melibatkan kontak fisik antar staf pelatih di pinggir lapangan.
Baginya, seorang pelatih memegang tanggung jawab moral yang jauh lebih besar untuk mengajarkan nilai-nilai sportivitas daripada sekadar mengejar skor akhir.
Hingga saat ini, publik sepak bola tanah air masih menanti langkah tegas dari Komite Disiplin PSSI terkait sanksi yang akan dijatuhkan kepada para pelaku kekerasan tersebut.
Latar Belakang Insiden di Stadion Citarum
Kejadian memilukan ini menambah daftar hitam masalah disiplin dalam kompetisi Elite Pro Academy yang seharusnya menjadi oase bagi perkembangan teknis pemain masa depan.
Keterlibatan orang dewasa atau staf pelatih dalam aksi kekerasan fisik dianggap sebagai pelanggaran integritas berat yang bisa mengancam status lisensi kepelatihan mereka.
Stadion Citarum di Semarang menjadi saksi betapa rentannya kontrol emosi para pelaku olahraga di tengah tingginya tensi kompetisi kasta tertinggi untuk kelompok umur.