- Leicester City resmi terdegradasi ke League One setelah bermain imbang 2-2 melawan Hull City pada Selasa, 21 April 2026.
- Hasil imbang tersebut memastikan The Foxes turun ke kasta ketiga sepak bola Inggris untuk pertama kalinya sejak 2009.
- Penurunan kasta ini mengakhiri kejayaan klub yang pernah menjuarai Premier League secara mengejutkan pada musim kompetisi 2015/2016 silam.
Suara.com - Salah satu kisah dongeng paling ajaib dalam sejarah sepak bola modern kini berakhir dengan sebuah tragedi.
Tepat satu dekade setelah mengguncang dunia dengan menjuarai Premier League, Leicester City kini harus menerima kenyataan pahit dengan resmi terdegradasi ke League One, kompetisi kasta ketiga dalam piramida sepak bola Inggris.
Kepastian turun kasta ini didapat setelah The Foxes hanya mampu bermain imbang 2-2 saat menjamu Hull City, Selasa (21/4/2026).
Hasil ini memupus harapan terakhir mereka untuk bisa selamat dari zona merah.
Tim arahan Gary Rowett sebenarnya sempat memelihara asa saat dua gol cepat dari Jordan James (menit 52) dan Luke Thomas (menit 54) di awal babak kedua membawa mereka berbalik unggul 2-1.
Namun, gol balasan dari Oliver McBurnie pada menit ke-63 menjadi vonis akhir bagi Leicester, memastikan mereka terdegradasi ke divisi tiga untuk pertama kalinya sejak 2009.
Manajer Gary Rowett pun hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit The Foxes harus turun kasta.
"Gambaran besarnya adalah Anda tidak terdegradasi hanya karena tiga atau empat pertandingan, Anda terdegradasi dalam satu musim," kata Rowett setelah pertandingan.
"Kita harus belajar. Saya rasa klub harus menerima bahwa ini adalah bagian mengerikan dari perjalanan sebuah klub sepak bola," tambahnya.
Nasib ini terasa begitu ironis jika mengingat kembali musim 2015/2016. Saat itu, Leicester yang datang dengan status non-unggulan dan peluang juara 5000 banding 1, secara heroik berhasil merengkuh trofi Premier League.
Di bawah arahan Claudio Ranieri dan didukung ketajaman Jamie Vardy, mereka tampil superior dan finis dengan keunggulan 10 poin di puncak klasemen.
Namun, satu dekade berselang, semua kejayaan itu seolah sirna tak berbekas. Dari tim yang dielu-elukan sebagai simbol keajaiban, Leicester City kini harus kembali merintis perjuangan mereka dari level kompetisi yang jauh lebih rendah.