-
Sembilan negara mengincar kemenangan perdana sepanjang sejarah mereka pada ajang Piala Dunia 2026.
-
Penambahan kuota menjadi 48 tim membuka peluang besar bagi negara debutan mencetak sejarah.
-
Kanada mengandalkan dukungan penuh suporter tuan rumah demi mengamankan tiga poin pertama mereka.
Suara.com - Sembilan tim nasional kini membawa misi besar untuk memecahkan rekor buruk dengan mengincar poin penuh pertama mereka sepanjang sejarah keikutsertaan turnamen Piala Dunia 2026. Ekspansi kuota peserta menjadi total 48 negara membuka kesempatan emas bagi para kontestan ini untuk mencetak tinta emas baru.
Kanada selaku salah satu tuan rumah tidak berjuang sendirian dalam ambisi mengakhiri puasa kemenangan pada putaran final kali ini. Badan sepak bola dunia FIFA membagikan ulasan mendalam mengenai peta kekuatan para tim lama serta debutan yang siap mengejar hasil bersejarah mulai 11 Juni nanti.
Amunisi Baru dan Motivasi Tuan Rumah Kanada

Timnas Kanada sangat berambisi memaksimalkan status mereka sebagai penyelenggara demi meraih tiga poin perdana di hadapan publik sendiri. Pasukan yang kini dinakhodai oleh Jesse Marsch tergabung dalam Group B bersama pesaing kuat seperti Bosnia dan Herzegovina, Qatar, serta Swiss.
Seluruh pertandingan fase grup tim berjuluk The Great White North ini akan diselenggarakan langsung di markas sendiri. Kehadiran suporter setia sebagai pemain kedua belas diharapkan mampu mendongkrak performa tim untuk mengamankan poin penuh pertama mereka.
Kembalinya Empat Kekuatan Lama Dunia

Haiti akhirnya kembali merasakan atmosfer kompetisi tertinggi setelah berhasil melewati rintangan berat pada fase kualifikasi zona Concacaf. Skuad asuhan Sebastien Migne kini memikul harapan besar dari masyarakat Karibia yang sangat fanatik terhadap olahraga si kulit bundar.
Sementara itu, Irak mendapatkan kesempatan kedua untuk mengukir sejarah baru setelah absen selama empat puluh tahun dari panggung dunia. Kepastian tiket lolos mereka dapatkan usai menumbangkan Bolivia dalam laga final Turnamen Play-Off konfederasi sepak bola dunia.
Selandia Baru juga datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah melewati jalur kualifikasi zona OFC tanpa hambatan yang berarti. Keberhasilan meraih hasil tak terkalahkan pada edisi Afrika Selatan silam menjadi fondasi keyakinan bagi generasi baru All Whites.
Di sisi lain, Qatar berhasil melangkah ke putaran final murni lewat jalur kualifikasi berkat performa impresif yang terus terjaga. Kehadiran pelatih berpengalaman Julen Lopetegui menjadi jaminan bahwa tim asal Timur Tengah ini tidak akan mudah ditaklukkan lawan.
Kejutan Besar dari Empat Negara Debutan
Tanjung Verde menciptakan sensasi luar biasa di zona Afrika setelah berhasil menyisihkan tim raksasa Kamerun pada babak kualifikasi. Langkah sensasional tersebut mengantarkan mereka masuk ke dalam grup berat yang dihuni oleh Arab Saudi, Spanyol, dan Uruguay.
Kisah dongeng paling menarik dihadirkan oleh Curacao yang tercatat sebagai negara terkecil berdasarkan jumlah populasi maupun luas wilayah. Anak asuh Dick Advocaat langsung menghadapi ujian berat melawan juara dunia empat kali Jerman, Pantai Gading, dan Ekuador.
Yordania akhirnya berhasil menebus kegagalan masa lalu mereka setelah memastikan diri terbang menuju wilayah Amerika Utara. Negara Asia Barat ini siap menantang sang juara bertahan Argentina, Aljazair, serta Austria di dalam persaingan ketat Grup J.
Melengkapi kuota debutan, Uzbekistan mengukir sejarah sebagai perwakilan pertama dari kawasan Asia Tengah yang menembus putaran final. Tim berjuluk The White Wolves langsung berada di panggung megah bersama Kolombia, RD Kongo, serta Portugal yang dipimpin Cristiano Ronaldo.
Sembilan negara ini memiliki catatan sejarah tersendiri yang mendasari ambisi besar mereka pada turnamen edisi ke-23 ini. Kanada, Haiti, Irak, Selandia Baru, dan Qatar merupakan tim yang pernah tampil namun belum sekalipun merasakan kemenangan.
Sedangkan bagi Tanjung Verde, Curacao, Yordania, dan Uzbekistan, turnamen kali ini adalah panggung pertama untuk membuktikan kualitas sepak bola mereka. Format baru kompetisi memberikan harapan yang jauh lebih merata bagi negara-negara berkembang untuk bersinar di tingkat global.