Suara.com - Kehadiran Hwang In-Beom dalam skuad final Korea Selatan menjadi jawaban atas kecemasan lini tengah menjelang Piala Dunia 2026. Gelandang Feyenoord ini pulih tepat waktu untuk menjadi motor serangan sekaligus penyeimbang taktik baru timnya.
Langkah Korea Selatan di turnamen akbar ini diprediksi akan jauh lebih solid berkat kembalinya sang metronom. Keberadaannya memberikan opsi kreatif yang sempat dikhawatirkan hilang akibat badai cedera pemain kunci.
Dikutipdari ESPN, kembalinya pemain berusia 29 tahun ini meredakan eksperimen darurat yang sempat disiapkan tim pelatih. Kini, kestabilan transisi permainan dari bertahan ke menyerang kembali berada di tangan yang tepat.
![Timnas Korea Selatan kembali menjadi salah satu wakil Asia yang patut diperhitungkan di ajang Piala Dunia FIFA 2026. [Suara.com/dok]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/06/54493-timnas-korea-selatan.jpg)
Meskipun perhatian publik kerap tertuju pada Son Heung-Min, signifikansi peran Hwang In-Beom tidak bisa diremehkan. Dia adalah sosok penghubung yang membuat alur bola tim berjuluk Taeguk Warriors mengalir mulus.
Rekam jejaknya di beberapa klub Eropa membuktikan kapasitasnya sebagai gelandang tengah papan atas. Karakternya yang tenang di luar lapangan tercermin lewat gaya mainnya yang efektif dan tanpa kompromi.
Pelatih Hong Myung-Bo tampaknya mulai menggeser pakem formasi lama dari 4-3-3 menjadi skema lima bek. Perubahan ini otomatis menambah beban defensif bagi duet gelandang tengah yang tersisa.
Dalam sistem baru ini, Hwang In-Beom dituntut bekerja ekstra untuk memutus serangan lawan. Kendati demikian, visi bermainnya dalam mendistribusikan bola tetap menjadi senjata utama saat memegang kendali permainan.

Keahlian utamanya terletak pada kemampuannya melepaskan umpan kunci sebelum assist akhir tercipta. Pergerakan tak terlihat inilah yang kerap membuka ruang bagi lini depan untuk mencetak gol.
Saat pemain bintang seperti Son Heung-Min melakukan akselerasi, bola pertama hampir selalu berawal dari kakinya. Dia memegang kendali penuh dalam mendikte ritme permainan dari area dalam.
Kehadirannya di atas lapangan membuat pemain ofensif lainnya bisa fokus menyerang tanpa khawatir lini belakang terbuka. Tugas kotor dan pembacaan permainan yang jeli menjadi atribut terbaik yang dia miliki.
Sebelumnya, lini tengah Korea Selatan berada dalam kondisi kritis setelah ditinggal beberapa pilar utamanya. Gelandang bertahan utama, Park Yong-Woo, sudah lebih dulu dicoret dari daftar karena cedera parah.
Situasi sempat memburuk ketika Paik Seung-Ho juga diragukan tampil akibat masalah kebugaran, meski akhirnya lolos seleksi. Kondisi tersebut sempat menyisakan Lee Jae-Sung sebagai satu-satunya gelandang utama yang fit.
Cedera pergelangan kaki Hwang In-Beom pada Maret lalu bersama Feyenoord sempat memicu kepasrahan publik. Namun, proses pemulihan yang cepat memastikan dirinya siap memimpin lini tengah di Amerika Utara.