- Maroko mencatat sejarah sebagai tim Afrika pertama di semifinal Piala Dunia 2022 dengan mengandalkan taktik pertahanan rapat.
- Pelatih baru Mohamed Ouahbi kini mengusung gaya permainan lebih agresif dan dominan untuk menyambut turnamen Piala Dunia 2026.
- Generasi baru seperti Brahim Diaz menjadi tumpuan Maroko dalam mengeksekusi strategi menyerang guna menghadapi persaingan level dunia.
Suara.com - Setelah perjalanan magis mereka pada Piala Dunia 2022 yang berakhir dengan pencapaian bersejarah di posisi keempat, Maroko memilih untuk tidak berpuas diri. Sebaliknya, mereka menuju Piala Dunia 2026 dengan skuad yang lebih segar dan filosofi permainan yang sepenuhnya baru.
Mustahil melupakan kisah dongeng Maroko di Piala Dunia 2022. Setelah mengejutkan Portugal di perempat final, mereka menjadi negara Afrika pertama yang berhasil mencapai semifinal turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Secara sensasional, mereka mengoleksi tiga kemenangan di putaran final 2022, lebih banyak dibanding gabungan kemenangan mereka dalam 16 pertandingan di lima edisi Piala Dunia sebelumnya.
Kala itu, Singa Atlas sangat mengandalkan kesolidan pertahanan. Mereka hanya kebobolan satu gol dalam perjalanan menuju semifinal, dan itu pun merupakan gol bunuh diri saat menghadapi Kanada.
![Pesta Gol di Rabat! Maroko Hajar Niger dan Amankan Tiket ke Piala Dunia 2026 [@equipedumaroc]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/09/06/45969-maroko.jpg)
Di bawah asuhan Walid Regragui, Maroko memanfaatkan gaya bermain pragmatis. Mereka memaksa lawan frustrasi menghadapi blok pertahanan rapat (low block), sebelum menghukum melalui serangan balik cepat dan permainan direct.
Di babak 16 besar, Spanyol mencatat lebih dari 1.000 sentuhan bola tanpa mampu melepaskan lebih dari satu tembakan tepat sasaran dalam hasil imbang 0-0, sebelum akhirnya tersingkir lewat adu penalti.
Portugal juga menjadi korban transisi cepat Maroko di perempat final, saat sundulan Youssef En-Nesyri memastikan kemenangan 1-0.
Evolusi Skuad dan Pergantian Generasi
Meski mempertahankan taktik lama masih menjadi opsi, Maroko yang kini menempati peringkat kedelapan dunia dalam ranking FIFA tampaknya memilih pendekatan yang lebih progresif untuk Piala Dunia 2026.
Pilar-pilar sukses 2022 seperti Yassine Bounou, Achraf Hakimi, dan Noussair Mazraoui masih menjadi tulang punggung tim.
Namun, mereka kini mendapat dukungan generasi baru yang lebih kreatif, seperti Brahim Diaz, Neil El Aynaoui, dan Abde Ezzalzouli.
Maroko memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk membangun kolam talenta yang besar, mulai dari pembinaan lokal hingga integrasi pemain keturunan yang lahir di luar negeri.
Mereka juga menikmati hasil dari kesuksesan tim kelompok umur, mulai dari juara Piala Afrika U-23 2023, peraih medali perunggu Olimpiade Paris 2024, hingga juara Piala Dunia U-20 FIFA 2025.
Manajer tim U-20 yang sukses tersebut, Mohamed Ouahbi, kini dipercaya menangani tim senior setelah Walid Regragui mundur usai Piala Afrika (AFCON) 2025.
Saat membawa Maroko juara dunia U-20 di Chile, Ouahbi sebenarnya masih mengadopsi sebagian pendekatan pragmatis pendahulunya.