-
Shin Tae-yong dirumorkan masuk dalam bursa calon pelatih baru klub Persija Jakarta.
-
Juru taktik asal Korea Selatan tersebut memiliki catatan kelam dipecat Ulsan HD dalam dua bulan.
-
Rekam jejak buruk di level klub menjadi catatan penting bagi suporter The Jakmania.
Suara.com - Rumor merapatnya Shin Tae-yong ke kursi kepelatihan Persija Jakarta memicu perbincangan hangat di kalangan pencinta sepak bola nasional. Di balik reputasi besarnya, pendukung Macan Kemayoran perlu mencermati catatan kelam sang juru taktik yang pernah didepak klub hanya dalam waktu 60 hari.
Ekspektasi tinggi kini membayangi publik ibu kota seiring munculnya nama arsitek asal Korea Selatan tersebut. Namun, sejarah mencatat bahwa racikan strategi pria berusia 55 tahun ini tidak selalu berbuah manis saat menangani klub lokal.
Kegagalan domestik di masa lalu menjadi alarm penting bahwa nama besar di level internasional bukan jaminan kesuksesan instan. Sisi lain dari perjalanan kariernya ini memperlihatkan dinamika kompetisi taktis yang pernah menghancurkan reputasinya dalam waktu singkat.

Rapor Merah di Ulsan HD
Momen paling kelam dalam karier kepelatihan STY terjadi saat ia menerima mandat untuk membangkitkan raksasa K League 1, Ulsan HD. Datang dengan ekspektasi tinggi, ia justru terjebak dalam periode instabilitas taktik yang dramatis.
Padahal, klub tersebut merupakan penguasa mutlak kompetisi domestik dengan merengkuh gelar juara bertahan tiga musim berturut-turut. Debutnya sempat memberikan angin segar lewat keunggulan tipis satu gol tanpa balas saat menjamu Jeju SK.
Sial bagi STY, momentum positif tersebut langsung menguap pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Performa tim merosot tajam hingga menelan tiga kekalahan beruntun yang memicu gelombang protes dari suporter.

Dari total sepuluh laga yang dipimpinnya, juru taktik asal Negeri Ginseng ini hanya mampu mengamankan dua kemenangan murni. Delapan pertandingan lainnya berakhir nestapa dengan hasil imbang serta kekalahan yang bertubi-tubi.
Manajemen klub akhirnya mengambil langkah ekstrem dengan memutus kontrak kerja sang pelatih yang baru berjalan dua bulan. Kepergiannya makin diperkeruh oleh rumor keretakan ruang ganti akibat ketegangan dengan beberapa pemain bintang senior.
Kilas Balik dan Reputasi Internasional
Sebelum masa-masa sulit di Ulsan HD, STY memulai fondasi kepelatihannya di Australia sebagai asisten pelatih Brisbane Roar. Pengalaman merantau tersebut menjadi modal penting sebelum ia pulang kampung untuk menukangi Seongnam Ilhwa Chunma.
Bersama Seongnam, ia membuktikan kapasitasnya dengan menyumbang trofi Liga Champions Asia serta Piala FA Korea. Keberhasilan memenangi puluhan laga domestik itu mengantarkannya naik kelas ke kursi kepelatihan Tim Nasional Korea Selatan.
Puncak popularitas globalnya meroket saat memimpin Taeguk Warriors menumbangkan juara bertahan Jerman pada Piala Dunia 2018. Narasi heroik itulah yang kemudian memikat federasi sepak bola Indonesia untuk meminangnya pada awal tahun 2020.
Pengabdian panjangnya bersama skuad Garuda selama lima tahun sukses menaikkan level permainan tim di kancah Asia. Setelah masa baktinya habis, ia sempat menjabat posisi eksekutif di federasi Korea sebelum akhirnya kembali berpetualang ke lapangan hijau.
Kini, potensi kembalinya STY ke Liga Indonesia bersama Persija Jakarta menjadi ujian pembuktian berikutnya. Rekam jejak masa lalu di level klub menjadi pelajaran berharga bahwa atmosfer kompetisi liga selalu menghadirkan tantangan yang berbeda.