-
Piala Dunia 2026 resmi dimulai dengan ekspansi masif format baru melibatkan 48 tim peserta.
-
Kolaborasi tiga negara tuan rumah menghadirkan tantangan logistik rumit dan perjalanan udara ribuan mil.
-
Estadio Azteca menorehkan tinta emas sejarah sebagai satu-satunya stadion penyelenggara tiga edisi berbeda.
Keberhasilan ini sekaligus menjaga tradisi impresif mereka yang selalu tampil di putaran final dalam delapan edisi beruntun sejak debut tahun 1998. Langkah cepat Jepang kemudian disusul oleh Selandia Baru, Iran, serta tim juara bertahan Argentina dalam waktu yang berdekatan.
Kemeriahan pesta pembukaan besok malam dipastikan berpusat di Mexico City yang siap mengukir sejarah lewat stadion ikoniknya. Estadio Azteca akan menahbiskan dirinya sebagai satu-satunya stadion di kolong langit yang pernah menggelar pertandingan putaran final Piala Dunia dalam tiga edisi berbeda, yakni pada tahun 1970, 1986, dan kini 2026.
Dua arena modern lain di Meksiko, yaitu Estadio Guadalajara dan Estadio Monterrey, tercatat baru didirikan pada dekade terakhir. Keberadaan Azteca tetap tidak tergantikan karena menyimpan memori kolektif yang tak ternilai bagi pencinta sepak bola dunia.
Di rumput stadion inilah legenda besar Pele mengangkat trofi Jules Rimet pada tahun 1970 yang legendaris. Tempat ini juga menjadi saksi bisu saat Diego Maradona mencetak gol "Tangan Tuhan" serta "Gol Abad Ini" ke gawang Inggris pada 1986.
Supremasi Absolut Tim Samba
Meskipun turnamen kali ini dipenuhi berbagai modernisasi dan perubahan format, satu tradisi mulia tetap tidak tergoyahkan. Tim Nasional Brasil datang dengan menegaskan status mereka sebagai satu-satunya negara di dunia yang tidak pernah absen satu kali pun dalam sejarah Piala Dunia.
Negara sepak bola ini selalu berhasil menembus putaran final sejak turnamen pertama kali digulirkan di Uruguai pada tahun 1930. Catatan emas 23 kali keikutsertaan tanpa putus ini menempatkan Brasil di puncak piramida tertinggi, jauh melampaui para pesaing beratnya.
Berbekal koleksi lima bintang di dada, konsistensi kehadiran ini menjadi motivasi sekaligus tekanan besar bagi generasi baru Selecao. Mereka mengemban misi berat untuk menyudahi masa kering gelar juara dunia yang sudah berlangsung sejak tahun 2002 silam.
Piala Dunia 2026 menjadi momentum FIFA untuk melakukan komersialisasi dan ekspansi global secara besar-besaran melalui penambahan kuota peserta. Kebijakan menambah jumlah tim menjadi 48 dirancang untuk memberi ruang bagi negara-negara berkembang yang selama ini kesulitan menembus putaran final akibat keterbatasan slot konfederasi.
Namun, langkah ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola terkait potensi penurunan kualitas pertandingan akibat kesenjangan performa antar-tim. Selain itu, penunjukan tiga negara dengan wilayah geografis yang masif menimbulkan kritik tajam mengenai kelelahan fisik pemain serta dampak lingkungan dari tingginya mobilisasi transportasi udara selama turnamen berlangsung.