- Sebanyak 13 federasi sepak bola lintas benua resmi mengecam Presiden UEFA Aleksander Ceferin terkait isu perluasan format Piala Dunia.
- Pernyataan bersama yang dirilis hari Senin ini menolak pandangan Ceferin yang menganggap pertandingan kualifikasi Piala Dunia tidak menarik.
- Koalisi federasi menuntut penghormatan setara terhadap perjuangan seluruh tim nasional tanpa memandang status wilayah dalam kompetisi sepak bola global.
Suara.com - Sebanyak 13 federasi sepak bola lintas benua resmi melancarkan aksi kecaman keras terhadap Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, terkait isu perluasan format Piala Dunia.
Tensi memanas setelah Aleksander Ceferin melontarkan kritik pedas yang menyebut banyak pertandingan kualifikasi Piala Dunia saat ini sudah tidak lagi menarik untuk disaksikan.
Koalisi negara-negara dari benua Afrika, Karibia, hingga Asia Tengah ini menilai pandangan bos UEFA tersebut sangat merendahkan perjuangan serta mimpi tim-tim nasional di seluruh dunia.
Perlawanan terhadap Elitisme Sepak Bola
![Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, tetap tenang meski timnya hanya bermain imbang 1-1 melawan Maroko pada laga pembuka Piala Dunia 2026. [Instagram CBF]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/14/57229-brasil-vs-maroko.jpg)
Melalui pernyataan bersama yang dirilis pada Senin (15/6/2026), para federasi ini menegaskan bahwa setiap laga internasional memiliki nilai yang sakral bagi rakyat mereka.
Negara-negara yang tergabung dalam aksi protes ini antara lain Senegal, Tanjung Verde, Curacao, Uzbekistan, Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Pantai Gading, dan Afrika Selatan.
Mereka bersatu untuk mematahkan narasi Aleksander Ceferin yang dianggap hanya melihat sepak bola dari sudut pandang kepentingan elite Eropa.
Pernyataan resmi ini pertama kali dipublikasikan melalui akun X milik Federasi Sepak Bola Maroko sebagai bentuk respons langsung terhadap polemik format baru tersebut.
"Bagi negara-negara kami, tidak ada pertandingan Piala Dunia FIFA yang tidak penting. Lolos ke Piala Dunia FIFA merupakan pencapaian bersejarah dan perwujudan mimpi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” bunyi pernyataan bersama tersebut dikutip dari Antara.
Mimpi Besar di Balik Laga Kualifikasi
Bagi 13 federasi tersebut, anggapan bahwa laga kualifikasi kurang penting merupakan bentuk pengabaian terhadap pengorbanan jutaan elemen sepak bola.
Hal ini dinilai melukai perasaan para pemain, pelatih, pengurus klub, hingga suporter yang telah memberikan segalanya demi satu tiket ke putaran final.
Setiap perjalanan menuju panggung dunia dibangun melalui investasi jangka panjang, perencanaan matang, dan kerja keras yang memakan waktu bertahun-tahun.
Di balik setiap jersi tim nasional, terdapat komunitas besar yang melihat sepak bola sebagai sumber kebanggaan dan salah satu harapan pemersatu bangsa.
Oleh karena itu, koalisi ini menekankan bahwa sepak bola adalah olahraga global yang tidak dimiliki oleh segelintir kelompok eksklusif atau pengambil keputusan tertentu saja.
Sepak Bola Milik Seluruh Dunia
Dalam argumennya, mereka menegaskan bahwa inklusivitas adalah nyawa dari turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
“Piala Dunia FIFA adalah kompetisi sepak bola terbesar di dunia justru karena mempertemukan budaya, sejarah, dan perjalanan sepak bola yang berbeda-beda,” tulis pernyataan tersebut.
Tampil dalam ajang ini sering kali memiliki arti yang jauh lebih mendalam daripada sekadar pencapaian skor atau statistik di atas lapangan.
Bagi banyak negara berkembang, keberhasilan lolos ke putaran final merupakan inspirasi utama bagi generasi muda untuk mulai bermimpi.
Selain itu, partisipasi di level dunia menjadi motor penggerak utama dalam mempercepat perkembangan infrastruktur dan kualitas sepak bola nasional.
Tuntutan Rasa Hormat Antarnegara
Sebagai penutup pernyataan yang menggetarkan tersebut, 13 federasi ini meminta agar setiap negara mendapatkan penghormatan yang layak tanpa memandang status wilayah.
Mereka menolak segala bentuk diskriminasi narasi yang mencoba mengerdilkan nilai kompetisi kualifikasi di luar benua Eropa.
Setiap tim yang bertanding di putaran final adalah mereka yang telah membuktikan kualitasnya melalui sistem kualifikasi yang panjang dan kompetitif.
“Setiap negara yang lolos pantas mendapatkan rasa hormat. Setiap tim lolos berdasarkan prestasi. Setiap pertandingan memiliki arti,” tegas koalisi federasi tersebut.
Hingga saat ini, pihak UEFA maupun Aleksander Ceferin belum memberikan tanggapan resmi terkait protes besar-besaran yang dilayangkan oleh aliansi negara-negara tersebut.