- Wasit Francois Letexier memimpin laga 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Mesir yang berakhir kontroversial.
- Letexier mengeluarkan kartu untuk ofisial Argentina dan pelatih Mesir akibat protes keras terkait keputusan wasit di lapangan.
- Pengalaman internasional Letexier sebelumnya mencakup Piala Dunia U-20 2023 serta laga playoff Olimpiade antara Indonesia dan Guinea.
Suara.com - Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina vs Mesir dipimpin sosok wasit yang tak asing bagi penggemar sepak bola Indonesia, Francois Letexier.
Letexier jadi sorotan di partai Argentina vs Mesir saat tim Tango berbalik unggul 3-2.
Ia mengeluarkan kartu merah kepada salah satu official Argentina yang memprotes kejadian sebelum terjadinya gol ketiga Argentina.
Keputusan Letexier membiarkan terjadinya pelanggaran di kotak penalti sebelum gol ketiga Argentina juga membuat bintang Mesir, Mohamed Salah meluapkan kemarahan.
Letexier juga memberikan kartu kuning kepada pelatih Mesir, Honan Hassan di penghujung babak kedua.
![Wasit Timnas Indonesia U-23 vs Guinea: Dicap Musuh Masyarakat hingga Diancam Mau Dibunuh [Twitter]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/05/09/71816-francois-letexier.jpg)
Letexier menjadi sorotan karena belum pernah memimpin pertandingan timnas senior Argentina maupun Mesir sebelumnya.
Pengalaman internasionalnya bersama tim nasional baru sebatas di level usia muda, termasuk Piala Dunia U-20 2023.
Di Piala Dunia 2026, Letexier sudah dua kali bertugas di fase grup.
Ia memimpin laga Pantai Gading vs Ekuador serta Cape Verde vs Arab Saudi tanpa kontroversi berarti.
Namun, rekam jejaknya tak sepenuhnya bersih dari sorotan.
Letexier pernah mengusir Nicolas Tagliafico saat masih membela Olympique Lyon dalam laga Ligue 1 melawan AS Monaco pada Maret lalu.
Di Indonesia, nama Letexier sempat menuai kontroversi saat memimpin laga playoff Olimpiade Paris 2024 antara Indonesia vs Guinea.
Keputusannya memberikan dua penalti untuk Guinea menuai protes keras.
Salah satu penalti dinilai kontroversial karena terjadi di luar kotak penalti.
Protes keras pelatih Shin Tae-yong saat itu justru berujung kartu merah, yang semakin memicu kemarahan publik sepak bola Indonesia.
