- Pelatih Luis de la Fuente tidak menerapkan pengawalan man-to-man terhadap Lionel Messi pada final Piala Dunia 2026 mendatang.
- Strategi kolektif dipilih berdasarkan pengalaman masa lalu agar organisasi permainan Spanyol tetap seimbang menghadapi ancaman Lionel Messi.
- Luis de la Fuente memastikan Lamine Yamal dalam kondisi bugar dan harus bermain tanpa bayang-bayang legenda Lionel Messi.
Suara.com - Pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente, memiliki cara tersendiri untuk meredam pergerakan megabintang Argentina, Lionel Messi, pada final Piala Dunia 2026.
Meski menyadari ancaman yang dimiliki Messi, De la Fuente memutuskan tidak menerapkan strategi pengawalan satu lawan satu (man-to-man marking).
Keputusan tersebut didasarkan pada pengalaman pahit yang pernah dialaminya saat masih menangani tim muda Sevilla ketika menghadapi Barcelona.
Belajar dari Pengalaman Menghadapi Messi
![Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, mencatatkan rekor luar biasa dengan membawa timnya ke final Piala Dunia 2026 tanpa satu pun kekalahan. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/15/31251-luis-de-la-fuente.jpg)
De la Fuente mengenang momen ketika pertama kali mendengar kehebatan seorang bocah bernama Lionel Messi.
Saat itu, timnya berhasil menahan Barcelona hingga menit ke-70 berkat pengawalan ketat terhadap Messi.
"Kami pergi ke Barcelona untuk melawan mereka di Piala Spanyol dan saya telah mendengar hal-hal hebat tentang seorang anak laki-laki bernama Messi," ujar De la Fuente.
"Jelas kami menempatkannya di bawah pengawalan man-to-man sejak awal. Dan pada menit ke-70, skornya 0-0."
Namun situasi berubah drastis setelah pemain yang bertugas menjaga Messi ditarik keluar karena menerima kartu.
"Ketika pemain yang menjaganya mendapat kartu, saya menariknya keluar, dan dalam waktu 15 menit dia (Messi) telah mencetak empat gol."
Pilih Pendekatan Kolektif
Pengalaman tersebut membuat De la Fuente lebih memilih pendekatan kolektif untuk membatasi pergerakan Messi yang kini berusia 39 tahun.
Ia menegaskan tidak akan menugaskan satu pemain khusus untuk terus menempel kapten Argentina tersebut, tetapi seluruh tim harus selalu waspada terhadap setiap pergerakannya.
"Apa artinya ini? Bahwa kami akan menjaganya satu lawan satu? Tidak. Tapi bahwa kami akan mengawasinya dengan sangat ketat? Ya."
Menurutnya, strategi kolektif lebih efektif karena tidak akan mengorbankan keseimbangan organisasi permainan Spanyol.
De la Fuente juga memberikan pujian kepada Messi yang dinilainya sebagai teladan bagi para pesepak bola muda.
Lamine Yamal Diminta Jadi Diri Sendiri
Nama Lamine Yamal kerap dibandingkan dengan Lionel Messi. Namun, De la Fuente meminta publik tidak membebani pemain berusia 19 tahun itu dengan ekspektasi berlebihan.
Ia ingin Yamal berkembang dengan identitasnya sendiri, bukan hidup di bawah bayang-bayang Messi.
"Messi adalah satu-satunya. Dia adalah talenta yang luar biasa dan, yang terpenting, contoh bagi atlet yang lebih muda," tegas De la Fuente.
"Tetapi Lamine harus menjadi Lamine. Saya pikir cara terbaik membantu dirinya adalah mendukungnya agar tetap menjadi Lamine yang kita kenal."
Menurutnya, membiarkan Yamal bermain tanpa tekanan akan membuat potensi terbaiknya lebih mudah muncul di partai final.
Kondisi Lamine Yamal Dipastikan Fit
De la Fuente juga memastikan kondisi fisik Lamine Yamal tidak menjadi masalah menjelang laga melawan Argentina.
Sebelumnya, pemain Barcelona itu sempat absen latihan sebagai langkah pencegahan setelah mengalami benturan saat semifinal kontra Prancis.
"Dia mengalami benturan keras di paha. Dia dilanggar di kotak penalti beberapa hari lalu dan mengenai area yang sangat menyakitkan," kata De la Fuente.
Namun, sang pelatih memastikan kondisi Yamal sudah kembali normal.
"Hari ini dia juga telah mengikuti latihan bersama rekan-rekan setimnya seperti biasa."
Kehadiran Lamine Yamal diperkirakan menjadi salah satu senjata utama Spanyol untuk membongkar pertahanan Argentina pada final Piala Dunia 2026.
Duel Dua Filosofi Sepak Bola
Final Piala Dunia 2026 mempertemukan dua tim dengan filosofi permainan menyerang yang sama-sama kuat.
Luis de la Fuente berambisi membawa Spanyol kembali menjadi juara dunia untuk pertama kalinya sejak edisi 2010 di Afrika Selatan.
Di sisi lain, Argentina memburu sejarah dengan mempertahankan gelar juara dunia secara beruntun, pencapaian yang sangat langka dalam sepak bola modern.
