- Dewan FIFA berencana menggelar rapat darurat untuk mencopot Presiden Gianni Infantino akibat kontroversi penjualan hak siar Piala Dunia.
- UEFA, CONCACAF, dan Presiden La Liga secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan serta mendesak pengunduran diri Gianni Infantino.
- Meskipun masih mendapat dukungan terbatas, posisi politik Gianni Infantino semakin melemah dan terancam lengser melalui mosi tidak percaya.
Suara.com - Kursi Presiden FIFA, Gianni Infantino, dikabarkan berada di ujung tanduk setelah muncul rencana untuk menjual hak siar Piala Dunia.
Sejumlah anggota Dewan FIFA dilaporkan tengah mendorong rapat darurat untuk membahas kemungkinan pencopotannya.
Laporan media Inggris menyebut, Infantino berpotensi diminta mundur dalam pertemuan luar biasa FIFA.
Rapat tersebut awalnya dijadwalkan untuk evaluasi internal, namun kini berkembang menjadi krisis kepemimpinan.
Kontroversi memuncak setelah terungkap rencana rahasia bernilai 15 miliar poundsterling yang diduga melibatkan kepentingan komersial besar.
![Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino dicemooh suporter saat seremoni penyerahan trofi Final Piala Dunia 2026 yang dimenangi Spanyol. [FIFA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/20/86805-donald-trump-dan-presiden-fifa-gianni-infantino.jpg)
Skandal ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai federasi dan pemangku kepentingan sepak bola global.
Tak hanya itu, keputusan kontroversial Infantino yang membatalkan kartu merah pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun, di Piala Dunia 2026 juga menjadi sorotan.
Keputusan tersebut disebut diambil setelah adanya intervensi politik tingkat tinggi.
Sejumlah pihak kini mendorong digelarnya mosi tidak percaya terhadap Infantino.
Bahkan, ada desakan agar ia mundur secara sukarela sebelum dilakukan pemungutan suara resmi.
UEFA secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.
“Kesepakatan yang dibuat di balik layar telah merusak integritas dan kepercayaan dalam sepak bola,” demikian pernyataan mereka.
Kritik juga datang dari CONCACAF yang menilai Infantino tidak lagi menempatkan sepak bola sebagai prioritas utama.
Mereka menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap masa jabatannya.
Presiden La Liga, Javier Tebas, bahkan menyampaikan kritik lebih tajam.
“Era Infantino sudah berakhir. Sepak bola dunia membutuhkan kepemimpinan baru,” ujarnya.
Meski tekanan terus menguat, Infantino masih mendapat dukungan terbatas dari beberapa federasi, termasuk Qatar, Maroko, Indonesia dan Lebanon.
Namun, posisi politiknya dinilai semakin melemah di tengah badai kritik.
Rapat darurat FIFA dalam waktu dekat diprediksi menjadi penentu masa depan Infantino.
Jika mosi tidak percaya disetujui, pria Italia itu akan didepak dari jabatannya sebagai Presiden FIFA.