- Sebanyak 55 federasi anggota UEFA sepakat memboikot seluruh turnamen FIFA jika rencana penjualan hak komersial dilanjutkan.
- Kebijakan FIFA menjual saham kepada investor swasta dinilai UEFA mengancam masa depan serta prioritas olahraga sepak bola.
- Ancaman boikot tersebut berpotensi besar menggagalkan keikutsertaan tim Eropa pada berbagai ajang Piala Dunia mendatang.
Suara.com - UEFA secara resmi mengumumkan bahwa seluruh tim nasional anggotanya tidak akan berpartisipasi dalam turnamen FIFA jika rencana penjualan hak komersial Piala Dunia ke investor tetap dilanjutkan.
Keputusan tegas ini diambil setelah pertemuan 55 federasi anggota UEFA.
Dalam pernyataan resminya, organisasi tersebut menegaskan sikap bulat menolak kebijakan FIFA.
“Tidak ada satu pun tim nasional UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA selama proposal ini masih berlaku,” tulis UEFA dalam pernyataan resmi.
UEFA menilai rencana FIFA menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada pihak swasta telah melewati batas.
Mereka menegaskan bahwa turnamen paling bergengsi di dunia itu bukanlah komoditas bisnis.
![Enam negara yang dipastikan lolos Piala Dunia 2030 [FIFA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/21/45557-enam-negara-yang-dipastikan-lolos-piala-dunia-2030-fifa.jpg)
“Ada hal-hal yang terlalu penting untuk dijual. Piala Dunia adalah milik sepak bola. Selamanya akan seperti itu,” tegas UEFA.
Konflik ini bermula dari rencana FIFA yang dipimpin Gianni Infantino untuk membuka peluang investasi swasta.
Skema tersebut dikabarkan mencakup penjualan 20 hingga 30 persen saham dari perusahaan baru yang akan mengelola kompetisi utama FIFA.
Valuasi perusahaan itu disebut-sebut mencapai USD 20 miliar.
Dana segar dari investor ditargetkan bisa mendorong distribusi lebih dari USD 10 miliar ke 211 asosiasi anggota dalam empat tahun ke depan.
Namun UEFA melihat langkah tersebut sebagai ancaman serius.
Mereka memperingatkan bahwa masuknya investor akan mengubah wajah sepak bola secara permanen.
“Begitu investor eksternal masuk, sepak bola akan berubah selamanya. Keuntungan komersial akan menjadi kewajiban utama,” bunyi pernyataan UEFA.
UEFA juga menilai kebijakan ini berpotensi menggeser prioritas olahraga.