- MilkLife Soccer Challenge Seri 1 musim 2026/2027 sukses digelar di Tangerang dan Semarang pada 1-6 September 2026.
- Kompetisi usia dini ini melibatkan ribuan peserta dengan pemenang dari berbagai sekolah dasar di masing-masing wilayah regional.
- Penyelenggaraan turnamen berjenjang ini bertujuan memperkuat fondasi sepak bola putri Indonesia demi target Piala Dunia Wanita 2035.
Suara.com - Kompetisi sepak bola putri usia dini kembali bergulir melalui MilkLife Soccer Challenge (MLSC) musim 2026/2027.
Rangkaian Seri 1 berlangsung di dua wilayah, yakni Tangerang dan Semarang, pada 1-6 September 2026.
Kompetisi akar rumput yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife ini melibatkan ribuan talenta muda sepak bola putri Indonesia.
Juara di Tangerang dan Semarang
![Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann. [Dok. Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/07/46166-timo-scheunemann.jpg)
Persaingan di regional Tangerang menghasilkan SDN Pinang 3 sebagai juara kelompok umur (KU) 10 tahun dan SDN Kunciran 8 sebagai kampiun KU 12.
Sementara itu, regional Semarang menempatkan SDN Kembangarum 2 sebagai juara KU 10 dan MI Pagersari-Patean untuk kategori KU 12.
Regional Tangerang mencatat partisipasi 1.037 atlet dari 57 sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Di Semarang, sebanyak 1.091 atlet dari 63 institusi pendidikan turut ambil bagian.
Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, bersyukur turnamen pembinaan berjenjang ini dapat terus digelar secara berkelanjutan.
Target Piala Dunia Wanita 2035
"Kehadiran tiga kota baru juga menjadi langkah nyata kami untuk menjangkau lebih banyak talenta dan menumbuhkan minat anak-anak terhadap sepak bola sejak dini," ujar Teddy Tjahjono.
Tiga kota baru yang masuk kalender kompetisi musim ini adalah Jakarta Jaya (Jakarta Utara), Garut, dan Jayapura.
Ekspansi tersebut sejalan dengan visi jangka panjang penyelenggara untuk memperkuat fondasi pembinaan sepak bola putri menuju Piala Dunia Wanita 2035.
Teddy juga menyoroti meningkatnya persaingan berkat kehadiran sekolah-sekolah debutan yang mampu memberikan kejutan bagi tim unggulan.
"Yang paling menggembirakan adalah kita bisa melihat karakter pemain yang semakin beragam dari seri-seri sebelumnya," puji Teddy melihat keberagaman talenta.
Timo Scheunemann Soroti Football Intelligence
Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, menilai rutinitas kompetisi penting dalam membentuk cara berpikir atau football intelligence pemain.
"Yang lebih penting adalah bagaimana mereka belajar dan membawa pembelajaran itu ke pertandingan berikutnya," kata Timo Scheunemann memberikan sudut pandang kepelatihan.
Menurutnya, tekanan dalam berbagai turnamen berjenjang seperti HYDROPLUS Soccer League hingga JSSL 7’s Singapore dapat membantu mematangkan kemampuan pemain dalam membaca permainan.
Pada final KU 10 di Tangerang, kiper SDN Pinang 3, Shofiauliya Ferdian, menjadi salah satu kunci kemenangan setelah menggagalkan tiga tendangan penalti lawan.
"Waktu adu penalti tadi aku cuma diminta pelatih untuk yakin dan fokus melihat arah bola," ungkap Shofiauliya yang dinobatkan sebagai Penjaga Gawang Terbaik.
Di sektor KU 12, SDN Kunciran 8 keluar sebagai juara berkat dua gol tendangan jarak jauh Revalia Safitri pada laga pamungkas.
"Pokoknya harus semangat lagi buat kedepannya, kami harus pertahankan juara di turnamen berikutnya,” ujar Revalia Safitri yang menyabet gelar Pemain Terbaik turnamen.
Regulasi Lapangan KU 10 Berubah
Sebagai informasi, dimensi lapangan pertandingan KU 10 pada musim ini berubah menjadi 42 x 26 meter agar sama dengan KU 12.
Format tujuh lawan tujuh tanpa aturan offside tetap dipertahankan untuk mendorong produktivitas gol sejak usia dini.
Penyelenggara juga kembali menghadirkan Festival SenengSoccer untuk kategori usia 8 tahun guna memperkenalkan kegembiraan bermain sepak bola kepada anak-anak.
Setelah menggelar Seri 1 di Tangerang dan Semarang, MilkLife Soccer Challenge dijadwalkan menyapa Jakarta Timur dan Yogyakarta pada pertengahan September mendatang.