SuaraCianjur.id- Belum sembuh dari sorotan tajam masyarakat luas, kini Polri kembali menjadi sorotan dalam tragedi Kanjuruhan Malang yang menewaskan 125 orang.
Polri kembali menjadi sasaran usai pelepasan gas air mata yang diduga menjadi indikasi utama tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang pada hari Sabtu (1/10) malam kemarin.
Hal yang disorot dalam masalah ini adalah bagaimana cara bertindak dari kepolisian dalam menangani kericuhan yang terjadi dalam Stadion Kanjuruhan. Hal ini pun kemudian menjadi sorortan internasional. Termasuk media besar asala Amerika Serikat, The New York Times.
Sang Jurnalis bernama Sui-Lee Wee, tampaknya menyimpulkan soal tragedi Kanjuruhan merupakan sebuah insiden yang lebih dari sekedar kerusuhan dari suporter bola. Ada kekurangan dari Polri dalam penanganan massa.
"Saya berbicara dengan sejumlah pakar yang menyebut tragedi sepak bola di Malang menunjukkan ada isu yang lebih besar mengenai kepolisian," cuitnya seperti yang dikutip dari akun Twitter @suilee, Selasa (4/10/2022).
Ia pun menyinggung soal pengendalian massa yang kurang baik.
"Pelatihan yang buruk dalam pengendalian massa, satuan yang sangat militeristik, dan yang terpenting, hampir tidak pernah bertanggung jawab kepada siapapun," begitu katanya.
![Jurnalis The New York Times menyoroti institusi Polri buntut tragedi Kanjuruhan [Foto Istimewa]](https://media.suara.com/suara-partners/cianjur/thumbs/1200x675/2022/10/04/1-jurnalis-the-new-york-times-menyoroti-institusi-polri-buntut-tragedi-kanjuruhan.png)
The New York Times turut menyoroti masifnya pemakaian gas air mata, saat mengendalikan massa. Hingga tingginya biaya pengadaan atribut pengaman protes seperti helm dan kendaraan taktis.
Tentu saja pemberitaan dari media asing internasional soal kinerja kepolisian, membuat institusi tersebut disorot kembali oleh publik.
Bahkan warganet ramai mendesak kepada Polri untuk segera berbenah diri menyusul banyaknya perkara yang tengah membelit mereka.
"Dan korup," begitu kecam warganet. Pernyataan tersebut kembali menambahkan poin negatif terhadap Polri.
"Kalau udah sampai jadi perhatian internasional kayak gini dan mereka tetap nggak melakukan reformasi, nggak paham lagi," kata warganet lainnya.
"Bagaimana bapak @ListyoSigitP statement dari New York Times sudah sesuai dengan realita bukan?" sindir warganet lainnya.
"Mantep dibahas NY Times. Belom soal kasus-kasus sebelumnya," ujar warganet lain.
"Anda mau bilang apa pak polisi?" timpal yang lainnya.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengambil langkah tegas melakukan pencopotan terhadap AKBP Ferli Hidayat sebagai Kapolres Malang.
AKBP Ferli mendapatkan pembelaan dari Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto, yang mengatakan jika langkah pengamanan sudah sesuai prosedur.
"Sudah disampaikan pada saat apel lima jam sebelumnya. Jadi ini memang kami melihat ada tindakan preventif yang sudah dilakukan, dari internal kepolisian, Kapolres melihat secara prosedural sudah dijalankan," terang Albertus di Polres Malang, Selasa (4/10/2022) seperti dikutip dari Suara.com.
Langkah tersebut berupa menyediakan kendaraan Barakuda milik Brimob Polda Jawa Timur, yang digunakan untuk mengamankan para pemain dan ofisial dari tim Persebaya.
Bahkan menurutnya AKBP Ferli sama sekali tidak memberikan perintah untuk melepaskan gas air mata apalagi menyuruh untuk mengunci pintu Stadion Kanjuruhan.
"Tetapi tidak diketahui mengapa ada pintu terkunci. Tidak ada perintah dari Kapolres untuk melakukan penguraian massa dengan tindakan eksesif dengan gas air mata," sambung Albertus.
Ferli sudah memerintahkan supaya pintu Stadion Kanjuruhan dibuka 15 menit sebelum pertandingan berakhir.
Sumber: Suara.com