-
Agnez Mo viral usai memamerkan leher merah bekas kerokan di Instagram Story miliknya.
-
Ia dengan bangga menyebut istilah kerokan alih-alih scraping, menegaskan kecintaannya pada budaya Indonesia.
-
Unggahan itu menuai pujian warganet karena dianggap sebagai simbol identitas dan kebanggaan budaya di kancah internasional.
Suara.com - Penyanyi kelas dunia asal Indonesia, Agnez Mo, kembali berhasil mencuri perhatian publik.
Namun kali ini bukan karena karya musik atau pencapaian internasionalnya, melainkan lewat sebuah unggahan sederhana yang sangat lekat dengan kearifan lokal Indonesia, kerokan.
Melalui unggahan Instagram Story terbarunya, Agnez Mo membagikan foto bagian belakang lehernya yang tampak memerah dengan guratan-guratan khas bekas kerokan.
Yang membuat unggahan ini semakin menarik adalah tulisan yang ia sematkan.
Dengan sedikit humor, ia menulis, "People: scraping. Me: Kerokan," tulis Agnez.
Unggahan ini sontak menjadi perbincangan hangat. Di tengah gaya hidupnya yang modern dan kariernya yang mendunia di Amerika Serikat, Agnez menunjukkan bahwa ia tidak pernah melupakan akar budayanya.

Ia dengan bangga memilih istilah kerokan ketimbang padanan katanya dalam bahasa Inggris, scraping atau gua sha, yang kini juga populer sebagai metode perawatan di dunia Barat.
Kerokan: 'Obat' Andalan Saat Masuk Angin
Bagi masyarakat Indonesia, pemandangan leher atau punggung yang memerah akibat kerokan adalah hal yang sangat lumrah.
Praktik ini merupakan metode pengobatan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai solusi ampuh untuk mengatasi kondisi yang populer disebut masuk angin.
Masuk angin sendiri adalah istilah yang sangat khas Indonesia untuk menggambarkan sekumpulan gejala tidak enak badan, seperti meriang, pusing, mual, perut kembung, dan nyeri otot.
Secara medis, kondisi ini mungkin bisa dijelaskan sebagai kumpulan gejala flu ringan atau kelelahan.
Namun, bagi orang Indonesia, solusinya seringkali sederhana dengan menggunakan koin dan sedikit balsem atau minyak urut.
Dengan menggoreskan koin secara berulang pada kulit yang telah dilumuri minyak, dipercaya angin yang terperangkap di dalam tubuh dapat dikeluarkan.
Semakin merah bekas goresan, konon semakin parah masuk angin yang diderita.
Simbol Identitas di Negeri Orang
Fenomena ini menjadi sangat menarik karena Agnez Mo kini berbasis di Amerika Serikat, di mana akses terhadap pengobatan modern tentu sangat mudah.
Namun, pilihannya untuk tetap melakukan kerokan saat merasa tidak enak badan menunjukkan sebuah ikatan budaya yang kuat.
Ini adalah bukti bahwa sejauh apa pun ia melangkah, identitasnya sebagai orang Indonesia tetap melekat erat.
Tindakannya ini seolah menjadi pesan bahwa metode tradisional warisan leluhur memiliki tempatnya sendiri dan tidak kalah manjur.

Unggahan Agnez Mo ini pun menuai banyak reaksi positif dari warganet Indonesia.
Banyak yang merasa bangga dan terhubung, melihat seorang bintang internasional masih mempraktikkan kebiasaan orang Indonesia di kala kurang enak badan.
Pada akhirnya, foto leher merah Agnez Mo bukan hanya sekadar potret seseorang yang sedang masuk angin.
Ini adalah sebuah pernyataan budaya yang kuat, sebuah pengingat bahwa di tengah gemerlap dunia, kenyamanan dan penyembuhan terbaik terkadang datang dari tradisi sederhana yang kita bawa dari kampung halaman.