Merasa Dianggap Tak Pantas Bersedih Gara-Gara Punya Segalanya, Prilly Latuconsina Ungkap Luka Batin

Sumarni Suara.Com
Senin, 05 Januari 2026 | 07:00 WIB
Merasa Dianggap Tak Pantas Bersedih Gara-Gara Punya Segalanya, Prilly Latuconsina Ungkap Luka Batin
Prilly Latuconsina (Instagram/prillylatuconsina96)

Suara.com - Prilly Latuconsina baru-baru ini mengungkap curahan hatinya tentang kesedihan yang kerap ia rasakan, namun sering kali dianggap tidak pantas oleh orang-orang terdekatnya.

Ia merasa emosinya kerap diremehkan karena publik menilai dirinya sudah memiliki segalanya.

Curahan hati itu diungkap Prilly saat menjadi bintang tamu di podcast Suara Berkelas yang diunggah pada 28 Desember 2025 lalu.

Menurut Prilly, kesalahan terbesar adalah menilai masalah seseorang hanya dari sisi materi.

Ia menegaskan bahwa kekayaan tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menghakimi perasaan seseorang.

“Kita kan enggak bisa menilai masalah orang dari materi. Oke kita melihat orang itu punya segalanya, punya uang. Tapi ya pasti Tuhan itu adil, Tuhan akan ngasih masalah yang sesuai dengan levelnya dia,” ujar Prilly.

Prilly mengatakan bahwa setiap orang berhak sedih, meski sudah memiliki segalanya.

“Tapi bukan berarti dia enggak sedih, bukan berarti dia enggak bisa jadi manusia,” katanya.

Baca Juga: Sherly Annavita Diteror Usai Speak Up Soal Bencana Sumatra, Mobil Dicoret Hingga Dilempari Telur

Pemain film Ketika Berhenti Di Sini itu lalu mencurahkan isi hatinya tentang bagaimana keluh kesahnya justru dijadikan bahan candaan oleh orang terdekatnya.

“Aku sering dibecandain kalau misalnya aku lagi nangis, temanku atau apa aku dibecandain ‘Ya lo nangis tapi rumah lo marmer’,” kata Prilly menirukan ucapan sahabatnya.

“Ya orang-orang gitu, misalkan aku cerita ‘Lo nangis juga besoknya lo juga bisa beli tiket ke Itali, terus lo nangis di Lake Como',” sambung Prilly.

Prilly Latuconsina (Instagram/prillylatuconsina96)
Prilly Latuconsina (Instagram/prillylatuconsina96)

Meski mengakui dirinya sudah memiliki segalanya, namun Prilly merasa bahwa kesedihannya itu itu tetap berhak didengar.

“Dan aku ngerasa kayak, ya iya sih, tapi bukan berarti gue berhenti nangisnya kan, berarti gue tetap nangis dong. Berarti tetap ada emosi sedih di situ yang harus ditampung dan harus didengar,” kata Prilly.

Momen-momen seperti itu lah yang membuat Prilly kerap merasa sendirian. Ia menggambarkan fase itu sebagai titik rapuh dalam hidupnya.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI