- Film original terbaru karya Gina S. Noer berjudul "Aku Sebelum Aku" akan tayang global di Netflix tahun 2026.
- Film ini mengeksplorasi hubungan ayah-anak laki-laki, pencarian identitas, dan kritik kesulitan menjadi orang tua di Indonesia.
- Ringgo Agus Rahman berperan sebagai ayah dalam film berskala besar berlatar budaya Sunda yang kompleks ini.
Suara.com - Sutradara dan penulis skenario kenamaan, Gina S. Noer, kembali menghadirkan karya original terbaru yang akan tayang secara global di Netflix pada 2026.
Bertajuk Aku Sebelum Aku, film ini menjadi wadah eksplorasi Gina mengenai dinamika hubungan ayah dan anak laki-laki, pencarian identitas lewat sejarah keluarga, hingga kritik sosial mengenai sulitnya menjadi orang tua di Indonesia.
Dalam acara Next On Netflix yang dihelat di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis, 15 Januari 2026, Gina mengungkapkan bahwa ide cerita ini lahir dari momen personal bersama anak laki-lakinya yang kini berusia 14 tahun.
Ketertarikan sang anak pada sejarah memantik pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terpikirkan oleh Gina sebelumnya.
Berawal dari Pertanyaan Sejarah di Meja Makan
Premis film Aku Sebelum Aku berkisah tentang Jati (diperankan oleh Bima Sena), seorang remaja yang terpaksa menelusuri sejarah keluarganya demi tugas sekolah.
Namun, perjalanan ini justru membawanya pada penemuan jati diri dan konflik dengan sang ayah, Jaya (Ringgo Agus Rahman).
"Dia (anak saya) suka banget sejarah. Dia suka memberikan pertanyaan-pertanyaan yang enggak pernah kepikiran sebelumnya. Misalnya, 'Dulu nenek waktu zaman perang gimana? Lihat tentara Belanda atau Jepang?'," cerita Gina kepada awak media.
Dari percakapan sederhana itu, Gina menyadari bahwa sejarah dunia memiliki korelasi erat dengan sejarah diri sendiri. Dia merasa banyak orang di era modern melupakan akar mereka dan terlalu sibuk mencari validasi dari hal eksternal, seperti pencapaian di media sosial.
Baca Juga: Promo Buy 1 Get 1 Tiket Film Esok Tanpa Ibu di m.tix, Simak Cara Belinya
"Kadang-kadang ketika kita melupakan kita berasal dari mana, kita malah sibuk dengan hal-hal eksternal. Kita diukur sama achievement kita. Dulu kita biasa dibandingin sama anak tetangga, sekarang kita bisa dibandingin sama orang-orang yang bahkan kita enggak kenal," beber Gina.
Memotret "Kesepian" Laki-laki dan Patriarki

Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang kerap menonjolkan perspektif perempuan, kali ini Gina memilih sudut pandang maskulin, yakni hubungan ayah dan anak laki-laki.
Menurutnya, ini adalah cara untuk melihat dampak patriarki dari sisi yang berbeda. Laki-laki sering kali menjadi korban dari tuntutan sosial untuk selalu kuat dan tidak boleh mengeluh.
"Laki-laki tidak bercerita, dia ngapain? Dia merokok di Alfamart, atau ngopi. Saya tuh sekarang kalau lewat Alfamart lihat laki-laki diam di pinggir jalan tuh kayak sedih banget rasanya. Kayak dia enggak bisa curhat," tutur sutradara Dua Garis Biru tersebut.
Gina juga membedah perbedaan dinamika antara ayah-anak perempuan dengan ayah-anak laki-laki. Jika hubungan dengan anak perempuan cenderung protektif, hubungan dengan anak laki-laki sering kali diwarnai persaingan identitas.
"Kalau hubungan ayah sama anak laki-laki tuh, in a way, ada persaingan tentang mendefinisikan identitas dirinya. Yang ayah maunya A, yang anak maunya B, atau ketika mereka punya skala sukses yang ingin diadu," paparnya.
Kritik Sosial: Jadi Orang Tua di Indonesia Itu Berat
Di balik balutan drama keluarga yang hangat dan humoris, Gina menyisipkan pesan tajam mengenai kondisi keluarga di Indonesia.
Dia menyebut keluarga Indonesia sering kali hidup dalam "survival mode" atau mode bertahan hidup akibat kurangnya perlindungan sistemik.
"Jadi orang tua di Indonesia tuh berat banget. Semua usaha untuk membuat anak kita lebih baik atau membangun keluarga kita lebih baik itu jarang sekali bisa dilindungi oleh negara. Negara tuh lebih jadi banyak faktor yang membuat kita deg-degan daripada merasa dilindungi," tegas Gina.
Sang sutradara menyinggung data penurunan angka pernikahan di Indonesia sebagai indikator betapa sulitnya membangun keluarga saat ini.
Melalui film ini, Gina berharap bisa memberikan ruang refleksi bagi penonton di tengah himpitan ekonomi dan ketidakpastian global.
"Cerita ini buat keluarga yang selalu dalam survival mode, dipaksa sama keadaan. Apa sih yang membuat pemaknaannya bisa jadi lebih lancar? Tentu ketika kita belajar memaknai apa yang terjadi sama diri kita dan keluarga kita sebelumnya," tambahnya.
Ringgo Agus Rahman dan Familiaritas Budaya Sunda
Untuk menghidupkan karakter Jaya, seorang ayah yang kompleks namun jenaka, Gina mempercayakan peran tersebut kepada Ringgo Agus Rahman. Film ini mengambil latar di Bandung dengan sentuhan budaya Sunda yang kental.
Gina tidak menampik adanya kekhawatiran publik mengenai peran Ringgo yang terkesan repetitif sebagai sosok ayah. Namun, dia memiliki alasan kuat.
Baginya, familiaritas wajah dan logat Ringgo justru menjadi kunci agar cerita yang kompleks ini bisa diterima dengan mudah oleh penonton, terutama di layar gawai yang lebih kecil.
"Kita familiar dengan wajahnya, kita familiar dengan cara logatnya. Ketika familiar, kita bisa lebih santai karena kita tahu ekspektasinya apa," jelas Gina.
"Aku pengin ketika kita melihat ayah yang penuh tekanan, penuh cinta, tapi juga bisa bercanda, itu butuh aktor yang selain fasih dan punya logika bahasa Sunda, dia juga bisa menangkap range emosi itu semua," sambungnya.
Gina juga menekankan pentingnya otentisitas dialek dalam film ini. Dia membayangkan dialog-dialog dalam Aku Sebelum Aku terdengar musikal dan menyenangkan di telinga, layaknya percakapan khas masyarakat Sunda.Produksi Skala Besar
Meski berfokus pada drama keluarga, Aku Sebelum Aku digarap dengan skala produksi yang masif. Melibatkan lebih dari 250 kru dan latar waktu yang melintasi generasi (termasuk era perang), film ini menjadi tantangan tersendiri bagi Gina.
"Tantangan utamanya nomor satu tentu bagaimana melihat peristiwa sejarah keluarga dan merefleksikannya tanpa harus ke-trigger secara emosional. Kedua, ini film yang secara skala produksi besar sekali. Semua cerita itu berkelindan jadi satu," ungkapnya.
Film ini dijanjikan akan menjadi tontonan yang fun, konyol, namun tetap menyentuh hati.
"Ini bayangin ceritanya kayak membuka kotak harta karun. Tapi kotak harta karunnya dengan petualangannya, dengan keseruannya, justru ke dalam diri sendiri," tutup Gina.