Brandt Andersen membuat setiap peralihan cerita punya makna, bukan sekadar pindah sudut pandang.
Saya terkesan karena film ini tidak meminta belas kasihan penonton. Tidak ada manipulasi emosi dengan musik berlebihan atau dialog dramatis yang dipaksakan.
Semua terasa alami. Kamera sering berada dekat dengan wajah karakter, membuat kita melihat ketakutan, kelelahan, dan harapan mereka dengan jelas.
Rasanya bukan seperti menonton film, tapi seperti menyaksikan hidup seseorang dari jarak sangat dekat.
Tidak Memihak, Tapi Sangat Manusiawi

Hal lain yang membuat I Was a Stranger terasa penting adalah sikapnya yang tidak memilih sisi. Film ini tidak sibuk menyalahkan siapa pun atau menggurui penonton.
Hanya menunjukkan kenyataan, manusia berusaha bertahan hidup di tengah kekacauan yang sering kali mereka tidak ciptakan sendiri.
Ada karakter yang terlihat seperti penjahat, lalu perlahan kita melihat alasan di balik pilihan mereka.
Ada yang tampak sebagai pahlawan, tapi juga punya keraguan dan ketakutan.
Baca Juga: Padahal Berlatar Myanmar, Syuting Film Extraction: Tygo di Jakarta Bikin Macet dan UMKM Rugi
Semua digambarkan abu-abu, seperti kehidupan nyata. Dan justru di situlah letak kejujurannya.
Akhir yang Membuat Judulnya Terasa Nyata

Saat film ini berakhir, saya akhirnya benar-benar memahami makna judul I Was a Stranger.
Menjadi orang asing bukan hanya soal berpindah negara atau kehilangan rumah. Kadang, kita bisa merasa asing di dunia sendiri, di situasi yang tidak kita pilih.
Film ini meninggalkan kesan kuat karena mengingatkan bahwa di balik berita, angka, dan label, selalu ada manusia.
Manusia yang ingin melindungi orang yang mereka cintai, ingin bertahan hidup, dan ingin diakui keberadaannya.