Suara.com - Kritik keras dilayangkan akun TikTok @gheovannymethamia terhadap Tasya Kamila atas kontribusinya sebagai alumni penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).
Akun tersebut secara terbuka mempertanyakan dampak nyata yang diberikan Tasya setelah menempuh pendidikan magister di luar negeri, yakni Columbia University.
Sebelumnya, mantan penyanyi cilik tersebut membagikan beberapa kontribusi nyata yang telah dan sedang dia jalankan bagi Indonesia.
Melalui unggahan video di TikTok miliknya, akun @gheovannymethamia menilai kontribusi Tasya tidak sebanding dengan biaya pendidikan yang bersumber dari dana publik.
"Ini makin makin geram ya, kontribusi anak-anak penerima LPDP itu semuanya perlu dipertanyakan," tulisnya.
Dia menegaskan bahwa penerima beasiswa yang memperoleh dana miliaran rupiah seharusnya menghadirkan dampak yang lebih terukur dan strategis.
"Diberi miliaran tapi ngasih feedback sekelas ibu PKK atau organisasi tanpa butuh S2 ivy league," lanjutnya dalam unggahan tersebut.
Kritik itu secara spesifik menyinggung latar belakang pendidikan Tasya di Columbia University sebagai institusi bergengsi dunia.
Baca Juga: Kontribusi sebagai Alumni LPDP Dipertanyakan, Tasya Kamila Singgung Statusnya sebagai IRT
Menurut @gheovannymethamia, program seperti gerakan akar rumput dan kegiatan sosial dapat dijalankan tanpa gelar Internasional mahal.
Dia bahkan menyebut kontribusi tersebut sebagai sesuatu yang umum dilakukan melalui program CSR perusahaan swasta.
"CSR di kantor gue itu juga ngebuat hal-hal kayak gini, nggak pakai LPDP," ujarnya membandingkan dengan praktik korporasi.
Akun itu juga menyoroti kegiatan pemberdayaan pemuda melalui seminar dan workshop yang dianggap bukan kontribusi strategis.
"Memberdayakan pemuda Indonesia melalui talk show, seminar, workshop, itu mah bisa dikerjain sama semua orang," katanya tegas.
Dia mempertanyakan urgensi lulusan universitas Ivy League jika output yang dihasilkan dinilai tidak berbeda signifikan.
Dalam video yang sama, dia melontarkan kalimat kontroversial, "Oh my God semua anak LPDP itu heboh heboh heboh, sampah sampah sampah."
Akun @gheovannymethamia secara eksplisit mendesak agar LPDP melakukan peninjauan ulang terhadap standar kontribusi awardee.
"LPDP harus direview sampe ke kontribusinya," tulisnya dalam bagian akhir kritik yang diunggahnya.
Dia berpendapat bahwa Indonesia lebih membutuhkan peneliti, ekonom, dan insinyur dengan dampak kebijakan nyata.
Menurutnya, investasi dana publik seharusnya diarahkan pada sektor yang menghasilkan perubahan struktural jangka panjang.
Pernyataan tersebut sontak memicu perdebatan sengit di kolom komentar dan berbagai platform media sosial lainnya.
Sebagian warganet mendukung kritik tersebut dan meminta evaluasi menyeluruh terhadap skema kontribusi alumni LPDP.
Sebagian lainnya menilai pernyataan itu terlalu generalisasi dan tidak adil bagi seluruh penerima beasiswa.
Kontributor : Chusnul Chotimah