Suara.com - Paruh kedua musim keempat Bridgerton ini terasa seperti pesta dansa yang tiba-tiba berubah jadi ruang sidang.
Masih ada gaun indah, lilin berkelip, dan musik yang bikin hati meleleh. Tapi di balik semua kemewahan itu, ada pertanyaan serius.
Seberapa berani seorang bangsawan jatuh cinta pada perempuan yang dianggap tidak setara?
Season 4 Part 2 melanjutkan kisah Benedict Bridgerton dan Sophie Baek, dan jujur saja, ini salah satu perjalanan cinta paling emosional dalam sejarah serial ini.
Kalau Part 1 lebih banyak membangun misteri Lady in Silver, maka Part 2 adalah momen ketika topeng jatuh dan kenyataan menghantam tanpa ampun.
Benedict Akhirnya Dipaksa Dewasa

Sejak musim pertama, Benedict selalu jadi si seniman bebas yang merasa dirinya berbeda dari aturan kaku keluarga bangsawan.
Anak kedua Bridgerton ini memberontak dengan cara elegan, melukis, berpikir terbuka, mencibir tradisi. Tapi Part 2 seperti berkata, "Baiklah, sekarang buktikan."
Konflik kelas sosial benar-benar jadi pusat cerita. Saat Benedict sadar bahwa perempuan yang dia cintai bukan hanya misterius, tapi juga berasal dari lapisan sosial yang dianggap rendah, dunia idealismenya runtuh.
Kemarahannya terhadap sistem terasa mentah dan manusiawi. Terutama ketika dia berhadapan dengan Violet, sang ibu, dan menyadari bahwa cinta saja tidak cukup di mata masyarakat.
Baca Juga: Pemeran Sophie Bridgerton Season 4 Ungkap Dirinya Cucu Aktris Ternama Korea
Transformasi Benedict tidak meledak-ledak. Dia tidak tiba-tiba jadi pahlawan sempurna.
Perubahannya halus, kadang menyakitkan, dan justru itu yang membuatnya terasa nyata.
Bridgerton season 4 seperti menelanjangi privilese bangsawan dengan cara yang manis tapi menohok.
Sophie Baek Bukan Sekadar Cinderella

Kalau musim ini punya jantung, itu adalah Sophie. Penampilan Yerin Ha membawa karakter ini jauh dari stereotip pelayan yang pasrah pada cinta tuannya.
Sophie menuntut martabat. Dia ingin dicintai secara terbuka, bukan disembunyikan di sudut ruangan seperti rahasia memalukan.
Di beberapa adegan, terutama saat dia menolak dijadikan simpanan tersembunyi, terasa jelas bahwa ini bukan sekadar kisah dongeng.
Ini tentang harga diri. Sophie tidak hanya menunggu diselamatkan. Dia membuat pilihan, meski pilihan itu berarti kehilangan pria yang dicintainya.
Chemistry antara Luke Thompson dan Yerin Ha benar-benar bersinar di paruh kedua ini.
Adegan bathtub yang sudah dinanti pembaca novel tampil romantis tanpa terasa murahan. Intens, intim, tapi tetap elegan.
Rupanya Bridgerton masih tahu cara membuat penonton tersipu tanpa merasa bersalah.
Subplot Masih Terlalu Ramai

Di sinilah sedikit keluhan muncul. Part 2 terasa padat. Terlalu padat. Seolah-olah setiap karakter ingin mencuri spotlight sebelum musim berakhir.
Kisah Francesca dan Michaela terasa segar dan emosional, apalagi dengan duka mendadak yang mengguncang keluarga Bridgerton.
Adegan keluarga berduka benar-benar menyentuh, mengingatkan pada trauma lama saat mereka kehilangan Edmund.
Hannah Dodd tampil memukau dalam menunjukkan kebingungan dan kesedihan Francesca.
Namun beberapa subplot lain terasa repetitif. Mondrich, dinamika lama keluarga Featherington, hingga bayangan soal Lady Whistledown yang mulai mengarah ke era baru.
Semuanya menarik sih. Tapi di titik tertentu terasa seperti fondasi untuk Season 5 yang terlalu dipaksakan masuk.
Ada momen ketika rasanya ingin berkata, "Bisa tidak kita kembali saja ke Benedict dan Sophie?"
Ketika penonton mulai melewatkan adegan tertentu, itu tanda serial ini mungkin sedikit terlalu ambisius.
Visual dan Musik yang Tak Pernah Gagal

Secara visual, tidak ada yang perlu diperdebatkan. Serial produksi Shonda Rhimes ini tetap jadi definisi kemewahan di layar kaca.
Set, kostum, dan tata cahaya seperti lukisan hidup. Setiap tatapan diperlakukan seperti momen sakral.
Musiknya juga kembali jadi senjata rahasia. Aransemen orkestra yang memadukan nuansa modern dan klasik membuat setiap pengakuan cinta terasa lebih megah.
Bridgerton tetap mempertahankan marwahnya, yakni tak sekadar bercerita, tapi juga memanjakan mata.
Yang paling menarik, musim ini terasa lebih dewasa. Lebih sadar sosial. Tidak hanya soal siapa menikah dengan siapa, tapi soal sistem yang menentukan siapa yang layak dicintai.
Setelah menonton Part 1 dan Part 2, ada satu kesimpulan. Musim ini tidak seharusnya dipisah. Ketegangannya lebih terasa jika ditonton sekaligus.
Tapi terlepas dari itu, Season 4 adalah comeback yang kuat setelah musim sebelumnya terasa sedikit goyah.
Benedict dan Sophie kini masuk daftar pasangan favorit. Perjalanan mereka bukan hanya romantis, tapi juga politis dalam cara yang lembut.
Jika ini standar baru untuk kisah saudara-saudara Bridgerton berikutnya, maka sulit untuk tidak berharap serial ini terus berlanjut.
Karena ketika sebuah drama romantis bisa membuat tertawa, tersipu, dan sekaligus berpikir tentang ketidakadilan sosial, rasanya sulit untuk benar-benar berpaling.
Bridgerton kembali jadi pelarian paling indah dari dunia nyata. Dan untuk kali ini, pelarian itu terasa layak diperjuangkan.
Kontributor : Chusnul Chotimah