- Adidaya Institute menyarankan kebijakan luar negeri Prabowo-Gibran fokus pada kemerdekaan Palestina sebagai jangkar utama.
- Dinamika geopolitik Timur Tengah dianggap katalisator pergeseran kekuatan global yang memengaruhi stabilitas energi dan perdagangan.
- Partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BoP) dinilai strategis, namun perlu evaluasi jika kepercayaan publik menurun.
Suara.com - Adidaya Institute memberikan catatan strategis bagi arah kebijakan luar negeri pemerintahan Prabowo-Gibran di tengah memanasnya suhu geopolitik Timur Tengah.
Indonesia disarankan untuk tetap konsisten mengawal kemerdekaan Palestina sebagai prioritas utama, sembari jeli memanfaatkan peluang dalam konfigurasi Board of Peace (BoP).
Ekonom Adidaya Institute, Bramastyo B. Prastowo, menilai eskalasi konflik antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel bukan lagi sekadar isu keamanan regional.
Menurutnya, dinamika ini merupakan katalisator pergeseran kekuatan global yang berdampak pada stabilitas energi hingga jalur perdagangan internasional.
"Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi strategis yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah," ujar Bramastyo dalam keterangan resminya kepada media.
![Menurut pakar dari Adidaya Institute, melalui mekanisme BoP terbuka peluang yang lebih realistis bagi Indonesia untuk berpartisipasi langsung dalam misi perdamaian di kawasan Timur Tengah, khususnya Palestina. [dokumentasi pribadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/10/51559-adidaya-institute.jpg)
Berdasarkan survei terbaru Adidaya Institute yang melibatkan 72 pakar nasional, isu kemerdekaan Palestina menempati posisi krusial dengan bobot strategis tertinggi, mencapai 23 persen.
Angka ini menempatkan isu Palestina sebagai "Anchor" atau jangkar utama dalam struktur kebijakan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Bramastyo menekankan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan hanya soal solidaritas kemanusiaan, melainkan sumber legitimasi moral dan politik Indonesia di mata dunia.
"Palestina adalah sumber legitimasi normatif yang menentukan kredibilitas posisi Indonesia dalam sistem internasional," imbuhnya.
Di sisi lain, keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) terus menuai diskusi hangat.
Meski banyak kritikan muncul, Adidaya Institute menilai posisi Indonesia di BoP adalah langkah strategis yang sesuai dengan amanat UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Bram menjelaskan bahwa selama puluhan tahun, pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza selalu terhambat tembok politik.
Namun, melalui mekanisme BoP, peluang Indonesia untuk berpartisipasi langsung dalam misi perdamaian di kawasan tersebut kini terbuka lebih lebar.
"Pemerintah tidak perlu terburu-buru keluar dari BoP. Kehadiran kita di sana harus dilihat sebagai peluang diplomatik untuk memperjuangkan kemanusiaan," ucapnya.
Namun, ia juga memberikan peringatan. Jika eskalasi serangan AS dan Israel terhadap Iran terus meningkat hingga menurunkan kepercayaan publik terhadap BoP, pemerintah harus siap melakukan "kalibrasi" atau perhitungan ulang.
"Kalibrasi tersebut harus dilakukan secara terukur. Kita harus tetap menjaga hubungan diplomatik yang konstruktif dengan Amerika Serikat, mengingat kepentingan geoekonomi kita yang besar di bidang perdagangan, investasi, dan teknologi," ujar Bram.
Menghadapi situasi global yang tidak menentu, Adidaya Institute menyarankan tiga langkah konkret bagi pemerintah:
Konsistensi pada Palestina: Menjadikan kemerdekaan Palestina sebagai jangkar legitimasi diplomasi.
Diplomasi De-eskalasi: Mengambil peran aktif sebagai negara non-blok yang bisa berkomunikasi dengan semua pihak.
Evaluasi Periodik: Melakukan evaluasi strategis terhadap efektivitas inisiatif perdamaian global yang diikuti.
Tentang Survei Adidaya Institute
Data-data tersebut dirangkum dari survei pakar yang dilakukan pada Desember 2025 hingga Februari 2026 di 12 kota besar di Indonesia.
Survei ini melibatkan 72 responden ahli dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, birokrat, pelaku usaha, hingga aktivis.
Selain isu luar negeri, survei ini juga memetakan program domestik.
Sebanyak 43 persen ahli menilai program Kampung Nelayan dan pembangunan 3 Juta Rumah sebagai "mesin" pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan Cek Kesehatan Gratis dikategorikan sebagai "stabilisator" sosial bagi masyarakat.