- Film "?" menjadi karya paling kontroversial di masanya karena berani memvisualisasikan gesekan antar-iman yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka.
- Polemik ini memperlihatkan adanya batas tipis antara kebebasan berekspresi seniman dengan sensitivitas nilai-nilai agama yang dijaga ketat oleh organisasi kemasyarakatan.
- Meski dihujat, Hanung Bramantyo menegaskan bahwa misi utama film ini adalah untuk menampilkan wajah Islam yang damai dan inklusif di mata dunia.
Suara.com - Dalam sejarah sinema Indonesia, sangat sedikit karya yang mampu memicu diskusi publik sekaligus ketegangan sosial sehebat film "?" atau juga dikenal Tanda Tanya.
Dirilis pada tahun 2011, film karya sutradara Hanung Bramantyo ini bukan sekadar tontonan layar lebar, melainkan sebuah "pernyataan" berani yang mengguncang tatanan pemikiran mengenai keberagaman di Tanah Air.
Meski telah berlalu lebih dari satu dekade, polemik yang menyelimuti film ini tetap menjadi studi kasus menarik tentang batasan ekspresi seni dan sensitivitas agama di Indonesia.
Memahami kembali kontroversi ini menjadi penting sebagai bahan refleksi mengenai arti toleransi di tengah arus informasi yang kian masif.
Sinopsis Singkat: Potret Retak Pluralisme di Semarang
Berlatar di Kota Semarang, film ini menyoroti kehidupan kompleks tiga keluarga dengan latar belakang keyakinan berbeda, yakni Islam, Katolik, dan Buddha/Tionghoa.
Hanung menggambarkan bagaimana gesekan sosial, prasangka, hingga konflik etnis bisa pecah di tengah upaya mereka untuk hidup berdampingan secara damai.
Film ini dengan berani mengangkat isu-isu sensitif, mulai dari pindah agama, diskriminasi etnis, hingga aksi heroik anggota Banser di sebuah gereja.
Gelombang Protes
Tak lama setelah tayang di bioskop, film ini langsung berhadapan dengan tembok kritik keras. Kelompok Islam konservatif, termasuk Front Pembela Islam (FPI), menjadi pihak yang paling vokal menentang pesan pluralisme yang diusung.
Ketua MUI Pusat Bidang Seni dan Budaya saat itu, Cholil Ridwan, secara tegas menyatakan bahwa film "?" menyebarkan paham pluralisme agama yang telah dinyatakan haram oleh MUI.
Sentimen negatif ternyata tidak hanya datang dari satu pihak. Banser, sayap pemuda Nahdlatul Ulama (NU), juga melayangkan protes.
Mereka mengecam adegan yang menggambarkan anggota Banser menerima bayaran saat menjalankan tugas pengamanan gereja, yang dinilai menyimpang dari realitas pengabdian tulus mereka di lapangan.
Puncaknya terjadi saat SCTV berencana menayangkan film ini pada momen Idul Fitri 2011.
Demonstrasi besar menuntut pembatalan tayang membuat pihak televisi akhirnya urung menyiarkannya, sebuah keputusan yang kemudian dikritik aktivis kebebasan berekspresi karena dianggap tunduk pada tekanan ormas.
Pembelaan Hanung Bramantyo
Menanggapi badai kritik tersebut, Hanung Bramantyo tidak tinggal diam. Ia mengaku bingung mengapa niat baiknya justru ditangkap secara negatif oleh sebagian kalangan.
Hanung menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah memperjelas argumen yang menyesatkan tentang Islam dan melawan stereotip global yang sering menggambarkan Islam sebagai agama radikal.
Baginya, film ini adalah upaya menunjukkan wajah Islam yang moderat.
"Film ini tidak dimaksudkan untuk menjadi komersial belaka, tetapi untuk membuat sebuah pernyataan," tegas Hanung dalam sebuah konferensi pers.
Demi menjaga sensitivitas, Hanung sebenarnya telah melakukan riset mendalam dengan berkonsultasi kepada sekitar dua puluh tokoh agama. Ia juga menggandeng penulis naskah Titien Wattimena untuk memastikan pesan toleransi tetap menjadi nyawa utama dalam alur ceritanya.
Dukungan dari Yenny Wahid
Di tengah gempuran kritik, dukungan mengalir dari aktivis Yenny Wahid. Putri mendiang Gus Dur ini memuji keberanian Hanung dalam memotret realitas keberagaman Indonesia dengan jujur.
Yenny memberikan pesan menohok bagi para pengkritik agar tidak menilai karya seni secara sepotong-sepotong.
Menurutnya, untuk memahami pesan toleransi dalam film tersebut, penonton harus melihat narasi secara utuh dari awal hingga akhir.