Suara.com - Kisah pilu sekaligus inspiratif datang dari seorang pengguna Threads dengan akun @denashya.
Dalam unggahan panjangnya pada 8 Maret 2026, ia membagikan pengalaman mendalam sebagai mantan caregiver bagi mendiang suaminya yang berjuang melawan kanker ganas. Unggahan ini pun viral dan menjadi pengingat keras bagi publik bahwa kanker sering kali datang tanpa peringatan.
"Kanker itu mainnya diem-diem, tahu-tahu stadium 3," tulis Denashya mengawali utasannya.
Salah satu poin yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa kanker bisa menyerang siapa saja tanpa memandang gaya hidup.
Banyak orang berasumsi bahwa penyakit mematikan ini hanya mengintai mereka yang memiliki pola hidup buruk, namun mendiang suami Denashya justru merupakan sosok yang sangat menjaga kesehatan.
"Suamimu lifestyle-nya gimana? Sehat, rajin olahraga, clean eating, gak rokok. Indomie hampir gak pernah konsumsi, alias juarang pol. Makanan mostly minta direbus. Futsal dan lari juga rutin dari jaman muda sampe 2019," ungkapnya.
Meski gaya hidupnya terjaga, faktor genetik ternyata memegang peranan kuat. Beberapa anggota keluarga besar sang suami diketahui memiliki riwayat penyakit kanker dan autoimun.
Selain faktor fisik, Denashya menyoroti satu hal yang mencuri perhatian netizen, yautu kaitan antara kondisi psikis dengan penyakit fisik. Ia menyebutkan bahwa kebiasaan memendam emosi bisa menjadi pemicu risiko penyakit berat.
"Kalau kata pengobatan alternatif, sakit kanker dan autoimun itu karena suka 'nge-press' perasaan. Intinya suka jadi people pleaser, gak enakan, pemarah tapi marah ditahan," bebernya.
Baca Juga: Jemaah Umrah Kabur, Ogah Pulang ke Indonesia karena Terlilit Utang
Secara medis, sang suami didiagnosis menderita Non-Hodgkin Lymphoma (NHL) Stadium 3. Jenis kanker kelenjar getah bening ini serupa dengan yang pernah dialami suami Tasya Kamila, namun dalam versi yang lebih agresif.
Gejalanya pun sering kali dianggap sepele, seperti batuk yang tak kunjung sembuh selama dua bulan dan sesak napas. Berdasarkan literatur medis yang ia baca, banyak pasien NHL baru terdeteksi di stadium lanjut karena gejalanya yang menyerupai masuk angin biasa.
Selama masa perjuangan tersebut, pengobatan dilakukan dengan bantuan BPJS. Meski begitu, tetap ada biaya obat mandiri yang harus dikeluarkan sekitar Rp4 juta per bulan. Walaupun sempat menunjukkan kemajuan setelah menjalani kemoterapi, kanker tersebut nyatanya kembali muncul.
Berkaca dari pengalaman pahit tersebut, kini Denashya lebih fokus menjaga kesehatan mental dan fisiknya melalui terapi psikolog serta metode Intermittent Fasting (IF).
Ia menekankan bahwa menjaga diri bukan hanya soal apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana mengelola emosi agar tidak menjadi beban bagi tubuh.