Ia menyatakan bahwa tidak ada strategi promosi instan yang mampu memanipulasi selera publik secara permanen.
Baginya, keberhasilan atau kegagalan sebuah film pada akhirnya akan kembali pada penilaian murni dan respons jujur dari para penonton itu sendiri.
3. Anakronisme Dialog

Ketiga, masalah anakronisme dialog yang dinilai sangat mengganggu logika penceritaan.
Kritik ini muncul karena adanya ketidaksinkronan antara latar waktu cerita di Mars tahun 2090 dengan gaya bahasa yang digunakan para tokohnya.
Penonton merasa aneh saat manusia masa depan masih menggunakan jargon viral dari tahun 2020-an, seperti istilah "keranjang kuning" atau jargon "kamu nanya".
Penggunaan bahasa pop culture yang sudah usang dalam konteks futuristik ini dinilai merusak aspek world-building dan melemahkan kekuatan narasi secara keseluruhan, sehingga pengalaman menonton menjadi kurang imersif.
Perdebatan yang riuh di media sosial ini sejatinya menunjukkan antusiasme publik yang tinggi terhadap kualitas film sci-fi lokal.
Penonton tidak hanya menginginkan kemegahan visual, tetapi juga logika penceritaan yang matang.
Semoga kontroversi ini menjadi batu loncatan bagi para kreator Indonesia untuk lebih jeli dalam menyelaraskan inovasi teknologi dengan kekuatan storytelling yang otentik di masa depan.
Kontributor : Safitri Yulikhah