Suara.com - Kisah viral ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ucapan.
Sebuah unggahan yang viral di media sosial menceritakan kejadian tragis yang dialami oleh seorang tetangga setelah melontarkan komentar bernada negatif atau 'julid' terhadap rencana hajatan keluarga lain.
Kejadian ini sontak memicu perbincangan hangat di kalangan netizen, terutama mengenai konsep ucapan adalah doa yang menjadi kenyataan secara instan.
Kisah ini bermula saat sebuah keluarga tengah sibuk mempersiapkan acara pernikahan untuk anak bungsu mereka yang direncanakan pada bulan Februari 2026.
Sebagai persiapan, pemilik rumah melakukan berbagai pembenahan, mulai dari membersihkan halaman hingga mengecat ulang tembok rumah agar terlihat segar saat hari bahagia nanti.
Namun, aktivitas tersebut ternyata memancing komentar dari seorang tetangga yang tinggal tepat di depan rumah mereka.
Menurut penuturan sebuah akun, tetangga ini terus-menerus memberikan komentar sinis saat melihat proses pembersihan rumah.
Ia seolah ingin menantang dan melihat seberapa meriah hajatan yang akan digelar, meskipun pemilik rumah menyebut bahwa setiap kali mereka mengadakan acara memang selalu berlangsung mewah dan ramai.
Ketika disinggung oleh anak dari pemilik rumah mengenai alasan di balik komentarnya, sang tetangga justru melontarkan kalimat yang kemudian dianggap sebagai pemicu duka.
Tetangga tersebut menjawab, "Rame, kalau ya hajatan nya 7 hari 7 malam dangdutan."
Ucapan yang diniatkan sebagai sindiran terhadap rencana pernikahan tersebut ternyata berujung pada peristiwa yang tidak disangka-sangka.
Keesokan harinya, suami dari tetangga yang melontarkan komentar tersebut dikabarkan meninggal dunia secara mendadak tanpa sakit.
Kejadian ini membuat banyak pihak merasa merinding karena seolah doa atau ucapan buruknya langsung dikabulkan dengan cara yang memilukan.
Ironisnya, angka '7 hari' yang sebelumnya disebut sebagai durasi hajatan dangdutan, kini benar-benar terjadi namun dalam suasana yang jauh berbeda.
Rumah tetangga tersebut kini dipenuhi pelayat dan harus mengadakan acara tahlilan selama tujuh hari berturut-turut untuk mendoakan almarhum suaminya,