Inilah alasan mengapa pasien tidak mengalami mual muntah hebat atau perubahan warna kulit, meskipun kondisi kankernya sudah sangat kronis.
Penyebab utama dari kanker hati ini ternyata adalah infeksi Hepatitis B yang tidak terdeteksi sebelumnya.
Sang istri mengaku bingung karena suaminya memiliki pola hidup yang cukup sehat, bukan peminum alkohol, dan menjaga pola makan dengan baik.
Meskipun suaminya merupakan mantan perokok, dokter menyebutkan adanya kemungkinan faktor keturunan atau infeksi virus yang sudah lama menetap tanpa gejala yang jelas.
Sebagai langkah edukasi bagi masyarakat, sang istri membagikan beberapa ciri "maag" yang patut diwaspadai sebagai tanda masalah organ yang lebih serius:
1. Maag yang tak kunjung sembuh meskipun obat sudah dikonsumsi selama 10 hingga 20 hari.
2. Terjadi penurunan berat badan, meskipun terkadang turunnya sedikit seperti orang yang sedang berdiet.
3. Masuk angin yang terus-menerus terjadi dan tidak kunjung sembuh.
4. Terjadi pengerasan pada organ hati yang bisa dirasakan melalui pemeriksaan fisik oleh tenaga medis.
5. Nyeri perut di lokasi yang spesifik, yaitu di bagian kanan atas, bukan di kiri tempat lambung berada.
Penderita seringkali tidak menyadari bahaya yang mengintai karena "Cancer itu ranahnya Allah" dan bisa menyerang siapa saja, bahkan mereka yang terlihat sangat sehat secara fisik.
Kini, sang istri fokus melakukan tindakan preventif dengan menjalani skrining dan vaksinasi Hepatitis B untuk dirinya sendiri serta memastikan proteksi bagi anak mereka guna mencegah risiko serupa di masa depan.
Kisah ini menjadi pengingat pentingnya deteksi dini melalui USG abdomen dan vaksinasi dewasa, terutama karena biaya pengobatan kanker sangat mahal.
Apalagi tidak semua jenis obat kanker hati stadium lanjut dapat dicover sepenuhnya oleh BPJS.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah