Suara.com - Viral kisah menyentuh hati tentang toleransi beragama dalam sebuah keluarga di Surabaya.
Sosok Daniel Lukas Rorong, seorang ayah yang beragama Nasrani, mendadak viral setelah tertangkap kamera menghadiri prosesi wisuda hafalan Al Qura'n putra tunggalnya, Divo Aprilio Lagi Rorong.
Kehadiran Daniel di tengah lingkungan pesantren bukan sekadar formalitas, melainkan wujud dukungan penuh seorang ayah terhadap pilihan keyakinan sang anak.
"Menghadiri Wisuda Hafalan anak cowokku satu-satunya, DIVO, di Ujian Terbuka & Tasmi' Akbar Marhalah 3 & Marhalah 6 SMP & SMA Ar Rohmah Integral Tahfizh Putra, Malang, Sabtu (18/4/2026)..." tulisnya pada postingan akun media sosialnya.
Dalam video yang diunggahnya, dia dicium tangannya dan kemudian dibalas olehnya mencium balik tangan sang putra.
Momen ini banyak membuat netizen terharu karena melihat ketulusan dan kasih sayang di antara mereka.
Daniel yang merupakan seorang aktivis dan mantan wartawan di Surabaya ini tampak sangat bangga melihat putranya berhasil menyelesaikan target hafalan di sekolah berbasis Islam tersebut.
Divo diketahui telah berhasil menghafal 5 juz Alquran sebagai syarat kelulusan SMP.
Daniel mengungkapkan keputusannya membiarkan anak-anaknya memeluk agama Islam didasari oleh prinsip demokrasi dan keterbukaan yang dia warisi dari orang tuanya.
Dia tidak pernah memaksakan keyakinannya kepada istri maupun ketiga anaknya yang semuanya Muslim.
"Semua agama setulnya baik gitu loh Pak Arif cuman enggak tahu kenapa saya kok orangnya memang mungkin karena didikan almarhum papa saya gitu yang sangat-sangat demokrasi segala macam," ucapnya di kesempatan lain pada Podcast Ngobrol Bareng TV.
Dukungan Daniel terhadap pendidikan agama anak-anaknya tidak main-main.
Sejak kecil, anak-anaknya telah disekolahkan di lembaga pendidikan Islam, mulai dari SD Al-Irsyad Surabaya hingga akhirnya memutuskan untuk masuk ke pondok pesantren di Malang.
Daniel bercerita keinginan untuk masuk pesantren justru datang dari sang anak sendiri sejak duduk di bangku kelas 6 SD.
Bahkan, putra keduanya yang akrab disapa Divo memiliki cita-cita mulia untuk menjadi seorang ustaz dan melanjutkan studi ke Kairo, Mesir.
Daniel sering memberikan motivasi kepada Divo agar terus semangat dalam menempuh jalan dakwah.
Suatu ketika, saat berada di depan Masjid Al-Akbar Surabaya, Daniel menunjuk baliho besar dan berkata kepada putranya, "nanti suatu saat namamu akan ada di ada di situ baliho itu Ustaz Divo."
Meski hidup dalam perbedaan iman, Daniel tetap menjalankan perannya sebagai ayah dengan penuh kasih, termasuk mengingatkan anak-anaknya untuk salat tepat waktu saat berada di rumah.
Di balik ketegaran dan dukungannya, Daniel mengakui adanya pergolakan batin dan rasa haru yang mendalam.
Dia bahkan sempat menyampaikan pesan menyentuh kepada keluarganya mengenai keterbatasannya sebagai imam secara lahiriah.
"Bapak minta maaf gitu loh kalaupun misalnya nanti apa-apa juga meninggal dalam keadaan masih nonis ya, ini takdir yang harus papa lalui karena memang ya siapa sih yang meminta takdir yang seperti ini, kan enggak ada juga," ucapnya.
Dia telah mengikhlaskan jika suatu saat nanti dirinya tidak bisa menjadi wali nikah bagi anak perempuannya karena perbedaan keyakinan tersebut.
Baginya, kebahagiaan dan masa depan anak-anaknya adalah prioritas utama, terlepas dari jalan iman mana yang mereka pilih.
Daniel memilih untuk "ngikuti takdirnya" dan terus belajar tentang makna ikhlas dalam mengelola hubungan antariman di dalam rumah tangganya.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah