Suara.com - Kisah mengharukan kembali datang dari seorang guru PKN di SMAN 1 Purwakarta bernama Syamsiah yang akrab disapa Bu Atun.
Usai mengalami perlakuan tidak sopan dari sejumlah muridnya saat sedang mengajar, Bu Atun membuat warganet terenyuh dengan kemuliaan hatinya.
Dia memilih bersikap bijak dengan memaafkan para siswa dan mendoakan mereka agar menjadi pribadi lebih baik.
Sikap mulia tersebut membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan apresiasi berupa uang tunai sebesar Rp25 juta kepada Bu Atun.
Dedi menyerahkan uang tersebut sebagai bentuk penghargaan atas kesabaran dan kebesaran hati Bu Atun.
"Saya nambahin tabungan ibu Rp25 juta hari ini," ucap Dedi Mulyadi dalam suasana hangat di lingkungan sekolah.
"Masya Allah, terima kasih banyak pak," jawab Bu Atun dengan nada penuh syukur atas perhatian yang diterimanya.
Namun keputusan Bu Atun justru membuat suasana berubah haru karena dia tidak berniat menggunakan uang tersebut untuk dirinya sendiri.
"Tapi saya niatkan niat baik bapak menjadi ganda, Rp25 juta akan saya sumbangkan ke yayasan yatim," ungkap Bu Atun tegas.
Dia menjelaskan bahwa dirinya selama ini memang membina yayasan yatim piatu sebagai bentuk pengabdian sosial yang konsisten.
Bu Atun bahkan meminta agar bantuan tersebut langsung diarahkan kepada anak-anak yatim yang selama ini ia dampingi.
Namun Dedi Mulyadi tetap ingin menyerahkan bantuan tersebut secara langsung sebagai bentuk penghormatan kepada Bu Atun.
Bu Atun kemudian menyampaikan harapannya agar kebaikan tersebut menjadi berlipat dan membawa keberkahan bagi semua pihak.
Dedi Mulyadi pun mengaku terkesan dengan ketulusan sikap Bu Atun yang dinilainya sebagai sosok penuh empati.
"Saya titipkan Rp25 juta, karena ternyata saya bertemu orang baik," ujar Dedi dengan nada kagum.
Dalam kesempatan tersebut, Bu Atun juga memohon doa agar dirinya tetap istiqamah dalam menjalani kehidupan sederhana.
"Doakan saya pak, mudah-mudahan dapat ridho Allah dan menjadi hamba yang mulia," ucap Bu Atun penuh harap.
Sikapnya yang memaafkan dan memilih berbagi justru memperlihatkan nilai kemanusiaan yang kuat dalam menghadapi cobaan hidup.
"Ibu kenapa memaafkan, dihukum saja harusnya," tanya Dedi mencoba menggali alasan di balik keputusan tersebut.

"Jangan atuh pak, kasihan generasi masih panjang, waktunya berubah jadi baik," jawab Bu Atun lembut.
Dia menegaskan bahwa setiap anak memiliki kesempatan memperbaiki diri selama diberikan ruang dan doa yang tulus.
Hal ini lantas memicu gelombang simpati dari warganet yang tersentuh oleh ketulusan dan kebijaksanaan Bu Atun.
"Direndahkan murid-muridnya tapi ditinggikan derajatnya oleh Allah," tulis seorang warganet dalam komentar.
"Berlian akan tetap menjadi berlian di mana pun kau berada, Ibu," ujar warganet lain.
Kontributor : Chusnul Chotimah