Suara.com - Taksi hijau Green SM tengah jadi sorotan karena dituding sebagai penyebab kecelakaan KRL di Bekasi Timur.
Kelalaian para driver taksi listrik tersebut lantas dikuliti karena ternyata bukan kali ini saja menerobos perlintasan kereta api.
Selain itu, pernyataan pihak Green SM setelah kecelakaan KRL yang sama sekali tak meminta maaf atau berduka membuat publik makin geram.
Ajakan boikot mulai menggema. Faktanya, kehadiran Green SM telah mendapat penolakan dari banyak warga Surabaya, Jawa Timur pada 2025 lalu.
Fakta itu dibahas akun X @muharafiansyah pada Selasa, 28 April 2026 sambil membagikan jejak digital pernyataan Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya.
Warga Surabaya sempat menolak Green SM lantaran Eri Cahyadi menyebutnya sebagai 'transportasi massal'.
"Kalian marah sama green sm? Warga Surabaya udah marah duluan dari 2025 gara-gara Eri Cahyadi nyebut taksi ini sebagai 'transportasi massal' setelah menolak Trans Jatim masuk Kota Surabaya," ungkap akun @muharafiansyah.
Dalam jejak digital yang ikut dibagikan, Wali Kota (Walkot) Surabaya Eri Cahyadi menyatakan akan mengizinkan investor berinvestasi di transportasi massal.
"Kalau dia investor mau investasi di Surabaya, saya pasti akan mendukung, kalau ada transportasi massal," tutur Eri Cahyadi pada Juli 2025.
Namun di saat yang bersamaan, Eri Cahyadi malah menolak Trans Jatim untuk masuk Surabaya.
Eri Cahyadi menolak rencana Trans Jatim yang berada di bawah naungan Pemerintah Provinsi untuk masuk Terminal Joyoboyo di Koridor VII.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya Oktober 2025, taksi Green SM mulai beroperasi di Surabaya.
Bukannya memperbaiki ataupun memperbanyak transportasi massal, Walkot mengizinkan taksi hijau masuk Kota Pahlawan sehingga banyak warga Surabaya yang geram.

Mengetahui fakta tersebut, warganet kembali mempertanyakan pernyataan Walkot Surabaya mengenai taksi listrik sebagai transportasi massal.
"Dia paham kata 'massal' gak sih? Jangan-jangan dia mikir massal = banyak?" tanya akun @stellarandl***.