- KNKT mengungkap gangguan sistem sinyal dan distraksi cahaya lampu sekitar jalur rel di Stasiun Bekasi Timur sebagai pemicu kecelakaan.
- Proses komunikasi darurat antarpetugas pengendali yang terlalu panjang menyebabkan keterlambatan informasi kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek saat kejadian.
- Terdapat jeda waktu sekitar tiga menit 43 detik sejak KRL berhenti hingga akhirnya tertabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Suara.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap dugaan gangguan visual pada sinyal kereta serta lambatnya komunikasi antarpetugas menjadi faktor penting dalam kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan salah satu temuan awal investigasi adalah adanya distraksi cahaya di sekitar jalur rel yang membuat sinyal bantu sulit terlihat oleh masinis.
"Yang pertama, sinyal bantu tadi yang terdistraksi dengan lampu-lampu sekitarnya. Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut,” ujar Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut dia, kondisi area sekitar Stasiun Bekasi Timur yang dipenuhi cahaya dari pasar dan permukiman membuat masinis kesulitan membedakan lampu sinyal kereta dengan sumber cahaya lain di sekitar lintasan.
"Tapi karena ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa melihat dan artinya di sini ada gangguan di sinyal UB tadi, Pak,” ujarnya.
Selain persoalan sinyal, KNKT juga menyoroti proses komunikasi antarpengendali perjalanan kereta yang dinilai terlalu panjang saat situasi darurat terjadi.
Sebelum ditabrak KA Argo Bromo Anggrek, rangkaian KRL diketahui berhenti di jalur setelah tertemper mobil taksi di perlintasan sebidang Bekasi Timur. Namun informasi mengenai kondisi darurat tersebut tidak segera diterima masinis KA Argo Bromo Anggrek.
"Nah, ini yang membikin jeda agak terlalu lama karena PK (petugas pengendali perjalanan kereta) Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya,” jelasnya.

KNKT mencatat terdapat jeda waktu sekitar 3 menit 43 detik sejak KRL berhenti hingga akhirnya tertabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Dari investigasi awal tersebut, KNKT mengidentifikasi sedikitnya tiga persoalan utama yang menjadi perhatian, yakni gangguan sistem pendeteksi sinyal, distraksi cahaya di sekitar sinyal ulang, serta kendala komunikasi antarpetugas pengendali.
"Jadi salah satu penyebabnya adalah selain tadi ada beberapa masalah sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi adanya KA 5568 di Bekasi Timur, itu juga ada satu kondisi yang unsafe condition di kondisi itu, Pak. Selain itu juga ada gangguan distraksi sinyal ulang yang ada lampu-lampu dari sekitarnya pasar dan perumahan di sekitar sinyal tersebut. Yang ketiga adalah masalah komunikasi,” tuturnya.
Meski demikian, KNKT menegaskan seluruh temuan yang dipaparkan saat ini masih berupa data faktual awal dan belum menjadi kesimpulan resmi penyebab kecelakaan.
"Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” pungkasnya.