- Satreskrim Polrestabes Surabaya menangkap guru ngaji berinisial MZ atas dugaan pencabulan terhadap tujuh santri laki-laki di bawah umur.
- Tersangka melakukan aksi bejat di yayasan kawasan Genteng Kali sejak 2025 dengan modus memanfaatkan saat korban sedang tertidur.
- Pelaku kini ditahan dan terancam hukuman berat, sementara korban menerima pendampingan psikologis untuk memulihkan trauma akibat tindakan tersebut.
Suara.com - Satreskrim Polrestabes Surabaya meringkus MZ (22), seorang guru ngaji yang diduga melakukan aksi pencabulan terhadap tujuh santri laki-lakinya.
Pria ini nekat melecehkan anak-anak di bawah umur dengan dalih yang sangat tidak masuk akal, yakni untuk menghindari risiko kehamilan pada perempuan.
Aksi bejat ini dilakukan MZ di sebuah yayasan pendidikan keagamaan yang berlokasi di Jalan Genteng Kali, Surabaya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban MZ berjumlah tujuh orang dengan rentang usia antara 10 hingga 15 tahun atau setara usia Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Dalam sebuah video interogasi yang beredar di media sosial, MZ mengakui semua perbuatannya.
Dia menjelaskan bahwa hasrat menyimpangnya muncul akibat kecanduan menonton konten dewasa. Mirisnya, aksi tersebut dilakukan saat para korban sedang terlelap.
"Ceritanya orang itu tidur. Tiba-tiba muncul nafsu karena keseringan nonton film porno itu," aku MZ saat diinterogasi petugas dalam video yang diunggah akun Instagram @jawatimurpopuler pada Sabtu, 9 Mei 2026.
MZ menceritakan secara detail modus operandi yang digunakannya. Dia memanfaatkan kondisi santri yang sedang tidur di satu tempat tidur yang sama secara bergantian.
"Waktu tidur, masukin kemaluan di mulutnya. Saya pegang mulutnya, terus saya berlutut di kanan kiri kakinya," jelasnya tanpa raut penyesalan yang mendalam.
Hal yang paling mengejutkan adalah alasan MZ mengincar santri laki-laki. Meski mengaku memiliki nafsu terhadap lawan jenis, dia memilih anak laki-laki karena menganggap risikonya lebih kecil secara biologis.
"Kalau sekarang (pilih) anak-anak, soalnya adanya cowok itu. Terus kalau sama perempuan nanti takutnya zina atau hamil gitu," kata MZ di hadapan penyidik.
Kasus ini memiliki rekam jejak yang cukup panjang. MZ mengaku pertama kali melakukan aksi serupa pada 2021, sebelum dirinya resmi menjadi pengajar mengaji.
Sempat berhenti, aksi tersebut kembali dia ulangi sejak tahun 2025 hingga April 2026. Selama setahun terakhir, para korban bungkam karena berada di bawah tekanan dan rasa takut.
Terbongkarnya kasus ini berawal dari keberanian salah satu korban yang mengadu kepada orang tuanya, hingga akhirnya dilaporkan ke pihak berwajib. Polisi mengungkapkan bahwa aksi tersebut sering dilakukan dalam satu ruangan yang sama.
"Tujuh anak, semuanya kecil-kecil. Kejadiannya satu tempat tidur, gantian (korbannya)," ungkap salah satu petugas polwan di lokasi pemeriksaan.