- Acha Septriasa memerankan Amina dalam film Suamiku Lukaku yang mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga bagi para perempuan.
- Proses produksi dilakukan di Pangkal Pinang sebagai upaya menyuarakan pengalaman nyata korban kekerasan serta pentingnya berani bersuara.
- Film garapan sutradara Ssharad Sharaan dan Viva Westi ini dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 27 Mei 2026.
Suara.com - Acha Septriasa tak menyangka proses pendalaman karakter di film Suamiku Lukaku justru membawanya pada banyak cerita memilukan dari korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Senin, 18 Mei 2026, aktris 36 tahun tersebut mengungkap film terbarunya bukan sekadar drama rumah tangga biasa.
Lewat karakter Amina, Acha diajak menyelami luka perempuan yang hidup dalam hubungan toksik dan penuh kekerasan.
"Film Suamiku Lukaku bercerita tentang seorang perempuan bernama Amina. Dia tumbuh di keluarga yang memang enggak terbiasa untuk melawan karena dari kecil melihat hubungan orang tuanya penuh kekerasan dan enggak ada rasa saling mendengarkan," kata Acha Septriasa membuka cerita.
Menurut bintang film Qodrat tersebut, Amina sejak kecil melihat ibunya menjadi korban kekerasan sang ayah. Situasi itu membuat karakter yang diperankannya tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa diam dan memendam luka.
![Acha Septriasa saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Senin, 18 Mei 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/19/67224-acha-septriasa.jpg)
Masalah makin rumit ketika Amina menikah dengan laki-laki yang ternyata juga membawa trauma masa kecilnya sendiri.
"Suaminya ini tumbuh di situasi yang keras juga karena dia enggak pernah menerima perhatian dan genuine support dari bapaknya. Jadi akhirnya hubungan mereka tuh sama-sama membawa luka yang bikin dinamika pernikahannya sangat toksik," beber Acha.
Yang membuat Acha makin tersentuh, proses syuting film ini dilakukan di Pangkal Pinang. Dia menyebut kota tersebut punya angka kekerasan terhadap perempuan yang cukup tinggi.
"Ironisnya, Pangkal Pinang itu adalah satu kota dengan tingkat kekerasan perempuan tertinggi di seluruh Indonesia. Makanya aku pengin banget film ini bisa jadi suara juga buat perempuan-perempuan yang mungkin selama ini takut bicara," tutur sang aktris.
Karena itu, pemeran Amina tersebut berharap film ini bisa menjadi ruang bagi perempuan untuk berani bersuara ketika mengalami kekerasan di rumah tangga.
![Acha Septriasa saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Senin, 18 Mei 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/19/55834-acha-septriasa.jpg)
"Aku pengin banget menyuarakan bahwa kita sebagai perempuan bisa bersuara untuk stop kekerasan. Kalau merasakan hal-hal yang sudah membuat kita enggak nyaman, please let someone that close to you know supaya mereka bisa bantu dan nemenin kita," ucapnya.
Dalam mendalami karakter Amina, Acha mengaku tak hanya mengandalkan naskah. Dia juga berdiskusi intens dengan sutradara hingga mempelajari kondisi psikologis korban KDRT.
"Aku melihat referensi perempuan dengan tekanan physical abuse dan verbal abuse seperti apa, lalu bagaimana psikis mereka ketika mengalami hal-hal itu. Jadi memang banyak diskusi juga sama sutradara supaya karakternya terasa hidup," jelas Acha.
Bahkan sebelum syuting dimulai, tim produksi menghadirkan sejumlah perempuan di Pangkal Pinang untuk berbagi pengalaman nyata sebagai bahan riset.
Cerita yang didengarnya ternyata jauh lebih kelam dibanding adegan yang tampil di layar lebar.