- Film Operasi Pesta Copet diangkat dari pengalaman nyata sutradara Edy Khemod.
- Film Operasi Pesta Copet melakukan proses syuting nekat di festival Pestapora.
- Film Operasi Pesta Copet memotret fenomena sosial serta masalah kemiskinan struktural.
Suara.com - Rumah produksi Imajinari kembali mendobrak batas lewat film terbaru mereka, "Operasi Pesta Copet", yang bakal tayang serentak mulai 27 Agustus 2026.
Menariknya, ide film ini bukan muncul dari ruang rapat yang dingin, melainkan dari sebuah kejadian nyata yang dialami langsung oleh sang sutradara, Edy Khemod, saat sedang manggung bersama band metalnya, Seringai, di Solo.
Film Operasi Pesta Copet terinspirasi dari 4 copet dari Jakarta yang pernah ditangkap saat konser Seringai di Solo
Ide Gila dari Aksi Copet Saat Konser Seringai di Solo
Sutradara Edy Khemod membeberkan bahwa ide film ini berasal dari fenomena sosial yang ia temukan saat konser Seringai di Solo.
Kala itu, tertangkap empat orang copet yang sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta ke Solo hanya untuk beraksi di tengah moshpit.

"Bagi saya itu fenomena sosial yang menarik. Apakah mereka anak musik yang butuh uang, atau copet jalanan yang belajar skena musik?" ujar Edy Khemod saat sesi Media Gathering di Yogyakarta, Selasa (25/8/2026).
Berangkat dari kegelisahan itulah, lahir kisah Ijal (Iqbaal Ramadhan), Adut (Kristo Immanuel), Tia (Zulfa Maharani), dan Melodi (Kawai Labiba).
Empat sekawan yang terjepit kemiskinan struktural ini nekat menjalankan misi mustahil, yakni menggasak 300 unit handphone di festival musik terbesar, Pestapora.
Syuting Nekat di Tengah 100 Ribu Penonton
Produser Ernest Prakasa menyebut film ini sebagai produksi dengan persiapan paling panjang.
Sebab, mereka melakukan syuting langsung di tengah hiruk-pikuk festival Pestapora yang dihadiri puluhan ribu orang.
"Kami ingin penonton merasakan suguhan yang fresh, nekat, dan berani. Sesuatu yang jarang ditemukan di bioskop Indonesia," kata Ernest.
Logika Edy Khemod memilih festival musik Pestapora sebagai latar tempat pun memiliki alasan yang kuat.
Baginya, festival musik adalah lahan emas bagi para pencopet untuk menghasilan banyak uang sebelum berhenti dari pekerjaanya tersebut.
"Logika gue saat menulis cerita ini itu kalau copet mau melakukan ultimate case sebelum mereka pensiun ke mana ya, ya ke festival 3 hari yang datang 100 ribu orang, lo dapat 1 persennya saja sudah berapa tuh," selorohnya.
Bukan Sekadar Film Kriminal Biasa
Meski judulnya provokatif, "Operasi Pesta Copet" diklaim memiliki empati yang mendalam.
Ernest Prakasa menegaskan bahwa film ini memotret ironi kemiskinan di Indonesia.
"Kami menyoroti ironi ketika kemiskinan struktural menjebak. Muncul mindset, kalau yang lebih kaya boleh nyuri, kenapa gue nggak boleh?" tutur Ernest tajam.
Film ini tidak hadir untuk menawarkan cara memberantas copet, melainkan mengajak penonton melihat masalah sosiologis tersebut lebih dekat agar bisa memahami pandangan orang lain dan pada akhirnya belajar melindungi diri.