alexametrics

Kenalkan Rasa Asli Makanan Sejak Dini, Ini Manfaatnya bagi Anak

Ririn Indriani | Firsta Nodia
Kenalkan Rasa Asli Makanan Sejak Dini, Ini Manfaatnya bagi Anak
Ilustrasi anak sehat, anak makan, diet anak. (Shutterstock)

Gaya hidup yang diajarkan sejak kecil akan mempengaruhi masa depannya.

Suara.com - Hampir seluruh makanan yang kita jumpai menggunakan monosodium glutamat (MSG) yang populer dengan sebutan penyedap rasa dalam pembuatannya. Bahkan tak sedikit jajanan anak-anak yang memiliki varian rasa berbeda, sebagai hasil dari campuran pemanis buatan.

Tentu saja paparan makanan ber-MSG ini tak bagus bagi kesehatan anak. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, anak justru tak mengenal rasa asli dari suatu makanan, karena paparan MSG, pengawet, pemanis dan pewarna buatan.

Ketua Komunitas Organik Indonesia (KOI), Christopher Emille Jayanata mengatakan, paparan keempat bahan tersebut mungkin tak langsung berdampak pada kesehatan anak. Tapi, efeknya baru terasa bertahun-tahun kemudian ketika anak dewasa.

Oleh karena itu, menurutnya, penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak, rasa asli dari suatu makanan dan menghindari bahan-bahan buatan kimia diatas. Di komunitasnya, lelaki yang akrab disapa Emil ini memiliki program 'Sekolah Rasa' untuk mengedukasi anak-anak dalam membedakan rasa dari suatu bahan makanan.

"Misalnya kencur aslinya rasanya kayak apa, jahe kayak apa. Karena makanan-makanan yang dijual sekarang sudah dikuasai MSG, pengawet, pemanis buatan sehingga dikhawatirkan anak menjadi ketergantungan," ujarnya saat ditemui di acara Organic, Green, and Healthy (OGH) Expo di Bentara Budaya Jakarta, Minggu (16/10/2016).

Tentu saja edukasi ini lebih dahulu diterapkan Emil pada keluarganya. Ia sudah membiasakan anaknya untuk menghindari makanan yang mengandung MSG, pewarna, pemanis dan pengawet buatan sejak kecil. Hasilnya, pengenalan sejak dini ini efektif membuat anaknya pandai memilih makanan sehat.

"Saya sendiri punya anak, usia 8 dan 15 tahun. Mereka itu kalau yang namanya makanan udah milih. Misalnya, bukan nasi putih, makanan serba MSG, perwarna, udah pasti nggak mau. Chiki-chiki sudah pasti nggak mau," ungkapnya.

Emil tak hanya membombardir anaknya dengan kata-kata, tapi juga memberikan contoh nyata bagaimana makanan berperisa dan pengawet buatan, lebih tinggi risiko memicu penyakit.

"Saya kasih contoh banyak orang sakit ini karena ini. Mereka makan nggak sehat. Jadi saya kasih inspirasi itu dan mereka mengikutinya," tambah dia.

Emil pun mengakui bahwa anaknya jarang sakit dengan pola hidup sehat yang telah ditanamkannya sejak kecil. Oleh karena itu ia mengimbau para orangtua lebih aktif mengajak anaknya menjalani pola hidup sehat sedini mungkin.