Studi: Lelaki Pendek Lebih Berisiko Alami Kebotakan di Usia Muda

Ririn Indriani

Minggu, 21 Mei 2017 | 07:07 WIB
Studi: Lelaki Pendek Lebih Berisiko Alami Kebotakan di Usia Muda
Ilustrasi kebotakan. (Shutterstock)

Suara.com - Begitu menginjak usia 50-an, akan ada banyak populasi lelaki di bumi ini yang memiliki kepala botak berkat kondisi genetik yang dinamakan androgenic alopecia. Memang tidak semua lelaki akan otomatis mengalami kebotakan, tapi ternyata lelaki yang bertubuh pendek bisa lebih cepat botak di usia muda daripada lelaki bertubuh tinggi. Waduh! Apa alasannya?

Tinggi pendeknya seseorang sedikit banyak dipengaruhi oleh genetik turunan orangtua. Di sisi lain, tim peneliti dari Univesity of Bonn menemukan bahwa kode genetik yang menyebabkan lelaki bertubuh pendek juga meningkatkan risiko mereka mengalami kebotakan di usia muda.

Seperti dilansir hellosehat.com, para periset berteori ini mungkin, karena semua faktor tersebut juga dipengaruhi oleh kadar testosteron, hormon seks lelaki. Kadar testosteron tinggi mendorong anak laki-laki mengalami pubertas dini.

Anak laki-laki yang mengalami pubertas dini juga seringnya mengalami penutupan lempeng pertumbuhan (growth plate). Ini yang menyebabkan mereka pada akhirnya memiliki perawakan tubuh pendek, karena tulang mereka berhenti tumbuh memanjang.

Selain itu, testosteron juga merupakan alasan utama di balik kebotakan lelaki, yang kemudian beredar di aliran darah dan mengikat diri pada reseptor di folikel rambut. Telah lama diketahui bahwa lelaki yang memiliki kadar testosteron tinggi lebih berisiko mengalami kebotakan.

“Hormon ini bisa bertindak sangat lambat, hingga bertahun-tahun, jadi (tanda-tanda kebotakan) bisa muncul 20 tahun setelah Anda lewat masa puber,” ungkap ketua peneliti Dr. Stefanie Heilmann-Heimbach, dilansir dari Elite Daily.

Satu-satunya obat yang dapat menjamin terhindar dari kebotakan pada lelaki adalah dengan kebiri, yang bisa menghentikan produksi testosteron. Namun demikian, Heilmann-Heimbach memastikan bahwa kebotakan bukanlah takdir yang tak bisa dielakkan bagi lelaki bertubuh pendek, sehingga Anda tidak perlu repot-repot mendaftarkan diri ke klinik kesuburan untuk dikebiri.

Sampai sejauh ini, peneliti hanya mengetahui kaitan antara perawakan tubuh pendek dan risiko kepala botak. Belum lagi risikonya yang tergolong kecil. Periset juga belum mengetahui proses sebab-akibat yang sebenarnya dari dua faktor tersebut.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Hati-hati, Obat Penumbuh Rambut Bisa Picu Impotensi!

Hati-hati, Obat Penumbuh Rambut Bisa Picu Impotensi!

Health | Jum'at, 17 Maret 2017 | 19:44 WIB

Studi Ini Berikan Secercah Harapan bagi Lelaki Botak

Studi Ini Berikan Secercah Harapan bagi Lelaki Botak

Lifestyle | Kamis, 16 Februari 2017 | 14:55 WIB

Studi: Kebotakan Pada Lelaki Berisiko Kanker Prostat

Studi: Kebotakan Pada Lelaki Berisiko Kanker Prostat

Health | Selasa, 28 April 2015 | 13:32 WIB

Terkini

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB