Waspada! Bahaya Pestisida Memicu Kanker Hati

Chaerunnisa | Suara.com

Jum'at, 26 Mei 2017 | 08:50 WIB
Waspada! Bahaya Pestisida Memicu Kanker Hati
Aneka buah dan sayuran. [shutterstock]

Suara.com - Kelompok ahli kesehatan internasional mempertanyakan keamanan pestisida yang telah lama banyak digunakan dan dianggap tidak berbahaya oleh regulator Amerika Serikat. Padahal, sering mengonsumsi makanan yang tinggi kadar pestisidanya berisiko tinggi kanker dan penyakit hati.

Badan Penelitian Kanker Internasional (IARC), dan badan penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan, bahwa glifosat adalah zat penyebab kanker yang kemungkinan besar, atau karsinogen. Ini adalah bahan utama dalam ratusan agen kontrol tanaman dan pembunuh gulma, seperti Bronco, Glifonox, KleenUp, Ranger Pro, Rodeo, Roundup, dan Weedoff.

Temuan ini muncul beberapa dekade setelah Badan Perlindungan Lingkungan AS mengatakan glifosat aman bagi manusia. Badan tersebut menegaskan kembali keputusan tersebut di tahun 2012.

Pestisida yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, disemprotkan pada segala hal mulai dari lapangan golf hingga kebun rumah. Bahan kimia ini terutama digunakan di pertanian, dan disemprotkan pada tanaman hasil rekayasa genetika seperti kedelai, jagung, dan kapas. Tanaman ini dirancang untuk melawan pestisida, yang digunakan untuk membunuh gulma di sekitar mereka.

Dalam sebuah fakta, EPA mengatakan, pekerja atau tukang kebun di rumah bisa menghirupnya atau membawanya ke kulit mereka "selama penyemprotan, pencampuran, dan pembersihan. Kondisi itu sangat berbahaya.

Pestisida berbahaya untuk hati

Menurut WHO, pestisida yang digunakan untuk mengusir hama dan penyakit tumbuhan bisa membahayakan kesehatan manusia. Apalagi jika dikonsumsi dalam jangka panjang dengan kadar yang cukup tinggi. Meski efeknya tak terasa saat ini, organ hati Anda mungkin saja mengalami kerusakan.

Sebabkan kanker hati

Para ahli dari sebuah penelitian oleh American Association of Cancer Research mengungkapkan, terpapar pestisida dalam jangka panjang meningkatkan risiko Anda kena kanker hati sebanyak 71 persen.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat ini, pestisida bisa menyebabkan mutasi DNA dan akhirnya menciptakan sel kanker dalam tubuh Anda.

Namun, para ahli belum bisa menentukan pestisida jenis apa tepatnya yang paling besar risikonya sebabkan kanker hati.

Mengenai penyakit hati

Selain menyebabkan kanker, bahaya pestisida bagi organ hati Anda juga mencakup penyakit hati, misalnya hepatitis. Hati berfungsi untuk membersihkan darah dan membuang racun-racun yang masuk dalam tubuh.

Misalnya, racun dari pestisida atau polusi. Namun, jika di dalam hati racunnya sudah terlalu banyak, akan terjadi kerusakan atau infeksi serius. Organ vital ini pun akan makin kesulitan bekerja membuang racun.

Gejala penyakit hati yang harus Anda perhatikan antara lain muntah, demam, kulit jadi kuning, dan sakit perut. Jika tidak ditangani dengan benar, Anda berisiko tinggi mengalami gagal hati kronis. Pengobatannya antara lain dengan transplantasi organ hati.

Menghindari bahan pangan tinggi pestisida

Banyak produsen bahan pangan organik yang akan mencantumkan keterangan pada label bahan pangan yang Anda beli di pasar atau supermarket. Label organik berarti bahan pangan Anda ditanam dan dipanen secara alami, tanpa pestisida maupun pupuk sintetis.

Sedangkan bahan pangan hewani yang organik seperti daging dan telur berarti hewan ternak tersebut hanya diberi pakan organik, dan tidak disuntik dengan antibiotik atau bahan kimia apapun.

Nah, jika Anda membeli sayur, buah, kentang, dan jagung yang biasa Anda beli tidak ada kemasan atau labelnya, selalu cuci bersih dengan air yang mengalir sebelum dimasak atau dihidangkan. Anda sebenarnya tak perlu mengupas kulit buah untuk mengurangi bahaya pestisida.

Cara ini dinilai kurang ampuh karena bahan-bahan kimianya pasti sudah terserap ke daging buah. Anda justru akan kehilangan manfaat sehat mengonsumsi kulit buah dan sayur. (WebMD)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Awas, Kanker Paru 'Incar' Perokok Pasif!

Awas, Kanker Paru 'Incar' Perokok Pasif!

Health | Selasa, 23 Mei 2017 | 08:20 WIB

Studi: Keju Bisa Cegah Kanker Hati

Studi: Keju Bisa Cegah Kanker Hati

Health | Minggu, 30 April 2017 | 19:49 WIB

Hati-hati, Kegemukan Bisa Memicu Kanker Hati!

Hati-hati, Kegemukan Bisa Memicu Kanker Hati!

Health | Selasa, 04 April 2017 | 14:11 WIB

Hati-hati, Obesitas Bisa Sebabkan Kanker Hati!

Hati-hati, Obesitas Bisa Sebabkan Kanker Hati!

Health | Senin, 03 April 2017 | 22:43 WIB

Awas, Perut Buncit Bisa Picu Kanker Hati

Awas, Perut Buncit Bisa Picu Kanker Hati

Health | Minggu, 05 Juni 2016 | 15:25 WIB

Agar Berat Badan Berlebih Tak Memicu Kanker Hati

Agar Berat Badan Berlebih Tak Memicu Kanker Hati

Health | Selasa, 08 Desember 2015 | 20:01 WIB

Ini Tindakan Medis untuk Sembuhkan Kanker Hati

Ini Tindakan Medis untuk Sembuhkan Kanker Hati

Health | Minggu, 20 September 2015 | 10:03 WIB

Ini Golongan yang Berisiko Alami Kanker Hati

Ini Golongan yang Berisiko Alami Kanker Hati

Health | Minggu, 20 September 2015 | 09:22 WIB

Terkini

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB