Suara.com - Sebuah studi terbaru menunjukkan, orang yang tidur lebih banyak di akhir pekan daripada hari-hari biasa cenderung lebih besar mengalami 'jet lag sosial', yang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.
'Jet lag sosial' juga dianggap dapat menyebabkan kesehatan jadi lebih buruk, mood lebih buruk, serta rasa kantuk dan kelelahan yang meningkat. Temuan ini menunjukkan, setiap jam 'jet lag sosial' dikaitkan dengan peningkatan 11 persen pada kemungkinan penyakit jantung.
Kondisi 'jet lag sosial' terjadi saat seseorang tidur dan terbangun pada akhir pekan, kemudian muncul perasaan sangat lelah saat kembali bekerja setelah liburan. Hal tersebut terjadi terutama karena perubahan pola tidur.
"Hasil ini menunjukkan, keteraturan tidur, melebihi durasi tidur, memainkan peran penting dalam kesehatan kita," kata penulis utama Sierra B Forbush, asisten peneliti dari University of Arizona di AS.
"Ini juga menunjukkan bahwa jadwal tidur yang teratur mungkin merupakan sebuah cara pengobatan pencegah penyakit jantung yang efektif, relatif sederhana, murah, serta banyak masalah kesehatan lainnya," sambungnya.
Untuk penelitian tersebut, tim menganalisis tanggapan survei dari 984 orang dewasa berusia antara 22 hingga 60 tahun. 'Jet leg sosial' dinilai dengan menggunakan kuesioner mengenai waktu tidur dan dihitung dengan mengurangi hari kerja dari titik tengah tidur pada akhir pekan.
Secara keseluruhan, kesehatan dilaporkan menggunakan skala standar, dan pertanyaan survei juga meliputi durasi tidur, insomnia, penyakit kardiovaskular, kelelahan, dan kantuk.
Jeda 'jet lag sosial' juga kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan atau obesitas. Menurut rekomendasi American Academy of Sleep Medicine, orang dewasa harus tidur tujuh jam atau per malam secara teratur untuk meningkatkan kesehatan optimal. Temuan ini telah dipublikasikan di jurnal Sleep, baru-baru ini. (Zeenews)