Selain Genetik, Lingkungan Juga Pengaruhi Anak Obesitas

Chaerunnisa, Risna Halidi

Senin, 19 Juni 2017 | 11:54 WIB
Selain Genetik, Lingkungan Juga Pengaruhi Anak Obesitas
Ilustrasi anak obesitas atau kegemukan. (Shutterstock)

Suara.com - Pada tahun-tahun prasekolah, anak akan mulai belajar dari lingkungan sekitar mengenai pengaturan diri, baik dalam hal pilihan makanan dan bagaimana mengatasi emosi mereka.

Ketika anak-anak tidak belajar keterampilan pengaturan diri yang efektif selama tahun-tahun awal, peneliti telah menunjukkan anak akan memiliki risiko lebih besar mengalami obesitas.

Salah satu faktor yang terkait obesitas masa kanak-kanak adalah praktik pemberian makan yang ketat oleh pengasuh primer mereka, seperti orangtua. Implikasinya adalah, hal itu dapat mengganggu kemampuan anak untuk belajar mengatur makanan secara mandiri.

Sebuah studi terbaru dari University of Illinois menunjukkan, genetik anak-anak yang terkait dengan emosi dan kognisi mungkin juga berperan dalam pola ini.

Peneliti dari University of Illinois, Kelly Bost, menemukan cara untuk memecahkan pola yang menyebabkan obesitas masa kanak-kanak bukanlah tentang menyalahkan orangtua. Namun, mendorong orangtua untuk menemukan strategi baru dalam menghadapi emosi anak-anak.

"Beberapa hal yang dilakukan orangtua, mereka mungkin tidak berpikir terkait dengan bagaimana anak mengembangkan kebiasaan makan mereka. Cara orangtua merespons atau menjadi stres saat anak-anak marah mungkin terkait secara tidak langsung," jelas Bost.

"Cara kita menanggapi emosi itu dapat membantu anak mengembangkan keterampilan untuk diri mereka sendiri, mengatur diri sendiri, sehingga tantangan sehari-hari tidak menjadi hal yang luar biasa yang harus mereka kelola sehubungan dengan makanan," sambungnya.

Selain itu, ketika orangtua menawarkan makanan kepada anak-anak kapanpun ketika mereka kesal, anak-anak dapat belajar mengatasi emosi negatif dengan cara makan berlebihan. Kemudian, mereka akan mulai mengembangkan hubungan dengan makanan di awal kehidupan terutama makanan untuk menenangkan.

Bost menjelaskan, literatur telah menunjukkan orangtua yang menggunakan praktik pemberian makan secara terbatas memiliki anak-anak yang cenderung mengalami obesitas.

"Pola ini berkembang dari waktu ke waktu Kami tertarik untuk melihat apa yang dapat mempengaruhi pola perilaku ini, jadi kami dapat mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat memperburuk pola ini atau mengurangi pengaruhnya," ujarnya.

Bost, Margarita Teran-Garcia, Sharon Donovan, dan Barbara Fiese, mengidentifikasi interaksi tiga arah antara indeks massa tubuh anak (IMT), genotipe anak, dan cara orangtua merespons emosi negatif anak dalam prediksi pemberian makanan terbatas.

Menariknya, melihat genetika anak membantu peneliti untuk lebih memahami bagaimana anak-anak cenderung merespons stres. Dengan menggunakan data dari kelompok STRONG Kids, para peneliti memeriksa informasi tentang gaya makan orangtua dan bagaimana orangtua anak usia prasekolah (2 sampai 3 tahun) biasanya bereaksi terhadap emosi negatif anak-anak mereka. Para peneliti melihat faktor-faktor ini dikombinasikan dengan data genetik anak.

Secara khusus, tim peneliti tertarik pada gen COMT, sebuah gen yang diketahui memiliki dampak signifikan pada emosi dan kognisi. Gen ini menghasilkan protein dengan fungsi enzimatik yang membantu dalam pengaturan kadar neurotransmiter (dopamin) di otak. Fungsi sistem COMT dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perubahan yang dihasilkan oleh genetika dalam bentuk polimorfisme nukleotida tunggal (SNP).

"Kita semua membawa dua salinan informasi genetik - satu dari ibu, dan satu dari ayah - jadi sedikit perubahan asam amino bisa memiliki konsekuensi yang besar," tandas Bost.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Obesitas Pediatrik. Demikian seperti dilansir dari Zeenews.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Dua Negara Ini Miliki Jumlah Anak Obesitas Tertinggi Dunia

Dua Negara Ini Miliki Jumlah Anak Obesitas Tertinggi Dunia

Health | Kamis, 15 Juni 2017 | 15:26 WIB

Terungkap, Mengapa Anak Obesitas Sering Dijauhi Teman-Temannya

Terungkap, Mengapa Anak Obesitas Sering Dijauhi Teman-Temannya

Health | Senin, 12 Juni 2017 | 09:19 WIB

Minum Pemanis Buatan Selama Hamil, Ini Risikonya bagi Anak

Minum Pemanis Buatan Selama Hamil, Ini Risikonya bagi Anak

Health | Senin, 12 Juni 2017 | 08:44 WIB

Studi: Diet Mediterania Cegah Obesitas

Studi: Diet Mediterania Cegah Obesitas

Health | Jum'at, 19 Mei 2017 | 14:11 WIB

Hati-hati, Minuman Soda Bisa Bikin Gemuk!

Hati-hati, Minuman Soda Bisa Bikin Gemuk!

Health | Senin, 15 Mei 2017 | 19:17 WIB

Terkini

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:35 WIB

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:10 WIB

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:54 WIB

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:06 WIB

×